RADARTUBAN – Negara asal benua Afrika, Eritrea, kembali ke sepak bola internasional setelah lebih dari enam tahun tidak tampil di ajang resmi, seiring keputusan negara tersebut untuk ambil bagian dalam kualifikasi Piala Afrika 2027.
Keputusan ini menjadi sorotan dunia sepak bola karena Eritrea selama ini dikenal sebagai satu-satunya negara anggota FIFA yang tidak memiliki peringkat resmi akibat absennya mereka dari berbagai kompetisi internasional.
Langkah Eritrea kembali ke sepak bola internasional diumumkan menjelang dimulainya rangkaian kualifikasi AFCON 2027 yang akan digelar di Kenya, Uganda, dan Tanzania.
Kembalinya Eritrea juga menandai berakhirnya periode panjang isolasi sepak bola yang disebabkan oleh kebijakan internal negara tersebut.
Alasan Eritrea Absen dari Kompetisi Internasional
Negara asal benua Afrika, Eritrea, terakhir kali memainkan pertandingan internasional pada 2020 saat menghadapi Sudan dalam laga persahabatan.
Sementara itu, pertandingan kompetitif terakhir Eritrea terjadi pada 2019 dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 zona Afrika.
Selama enam tahun terakhir, pemerintah Eritrea melarang tim nasional tampil dalam pertandingan resmi karena kekhawatiran pemain akan melarikan diri saat berada di luar negeri.
Kondisi ini membuat tim nasional Eritrea kehilangan kesempatan berkembang di level internasional dan terputus dari kompetisi resmi FIFA maupun CAF.
Situasi tersebut juga berdampak pada status Eritrea sebagai negara tanpa peringkat FIFA hingga saat ini.
Mundur dari Kualifikasi Piala Dunia 2026
Pada 2023, negara asal benua Afrika itu sempat terdaftar dalam kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Afrika.
Namun, hanya beberapa hari sebelum laga perdana melawan Maroko, Eritrea memutuskan mengundurkan diri dari kompetisi tersebut.
FIFA kemudian mengeluarkan pernyataan resmi terkait pengunduran diri tersebut.
“Seluruh pertandingan Eritrea telah dibatalkan, sementara jadwal pertandingan lain di Grup E tetap tidak berubah,” tulis FIFA dalam pernyataannya.
Keputusan tersebut membuat Eritrea kembali ke sepak bola internasional tertunda, meski peluang tampil di Piala Dunia 2026 masih terbuka secara administratif.
Suara Pemain dan Harapan Masa Depan
Pengunduran diri Eritrea dari kualifikasi Piala Dunia 2026 menuai kekecewaan dari sejumlah pemain, termasuk gelandang Mohammed Saeid.
“Saya tidak tahu mengapa ini bisa terjadi atau siapa yang bertanggung jawab. Jelas bahwa pihak-pihak di atas tidak cukup serius dalam menangani sepak bola,” ujar Mohammed Saeid kepada BBC Sport Africa.
“Saya merasa sangat frustrasi karena saat ini banyak pemain berdarah Eritrea yang sedang berkembang, bahkan bermain di berbagai klub Eropa.”
“Kami sebenarnya bisa bersaing jika diberi kesempatan. Namun, melihat situasi seperti ini, apakah mereka masih ingin membela Eritrea di masa depan?”
“Suatu hari nanti saya bisa mengatakan kepada anak-anak saya bahwa saya pernah bermain untuk tim nasional Eritrea dan itu adalah salah satu pengalaman paling luar biasa dalam hidup saya. Namun kini, begitu banyak pemain yang justru kehilangan kesempatan tersebut.”
Pernyataan tersebut mencerminkan harapan besar agar tim nasional Eritrea dapat kembali dikelola secara profesional dan terbuka.
Menuju AFCON 2027
Partisipasi Eritrea dalam kualifikasi AFCON 2027 menjadi langkah awal kebangkitan sepak bola nasional negara tersebut.
CAF dan FIFA diharapkan dapat melakukan pemantauan ketat untuk memastikan komitmen Eritrea terhadap regulasi internasional.
Jika konsisten, Eritrea kembali ke sepak bola internasional bukan hanya menjadi simbol politik olahraga, tetapi juga membuka peluang regenerasi pemain.
Kembalinya Eritrea juga berpotensi mengakhiri status mereka sebagai negara tanpa peringkat FIFA setelah kembali memainkan laga resmi.
Bagi publik Afrika Timur, kehadiran Eritrea di panggung internasional menjadi momentum penting bagi integritas dan inklusivitas sepak bola Afrika. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni