Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Pergantian Pelatih Jadi Titik Balik Negatif, Persatu Tuban Tersingkir dan Suporter Bersuara Keras

Andreyan (An) • Selasa, 13 Januari 2026 | 12:36 WIB
Momen pemain Persatu Tuban ketika berlaga di babak 32 besar penyisihan grup BB Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025.
Momen pemain Persatu Tuban ketika berlaga di babak 32 besar penyisihan grup BB Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025.

RADARTUBAN — Tersingkirnya Persatu Tuban dari Liga 4 Kapal Api Piala Gubernur Jawa Timur 2025 tidak berhenti sebagai hasil akhir di papan klasemen.

Di tribun dan ruang diskusi suporter, kegagalan itu dibaca lebih dalam: ada keputusan krusial yang dinilai memutus momentum tim di saat kompetisi sedang berjalan.

Langkah Persatu terhenti di babak 32 besar. Tiket 16 besar melayang bukan karena jarak kualitas yang jauh, melainkan kalah tipis dalam hitung-hitungan produktivitas gol. Kekalahan yang terasa pahit karena peluang sejatinya terbuka lebar.

Baca Juga: Persatu Tuban Tersingkir Menyakitkan di Kandang, Sampai Jumpa di Kompetisi Liga 4 Tahun Depan

Sorotan Tajam ke Keputusan Manajemen

Suara kritis datang dari kalangan suporter sendiri. Solichul Anwar, pentolan Aliansi Suporter Persatu, menyebut pergantian pelatih di tengah kompetisi sebagai keputusan yang paling mengundang tanda tanya.

"Dari awal kami sudah menyoroti pergantian pelatih secara tiba-tiba, padahal suporter cukup puas dengan performa pelatih sebelumnya. Entah atas pertimbangan apa, manajemen mengganti pelatih secara tiba-tiba,’’ ungkapnya kepada Jawa Pos Radar Tuban.

Bagi suporter, pergantian itu bukan hanya soal nama di pinggir lapangan, tetapi perubahan ritme dan pendekatan tim yang terjadi di momen paling sensitif.

Jam Terbang yang Dipertanyakan

Jika ditarik ke belakang, perbandingan rekam jejak menjadi bahan perbincangan utama.

Khoirul Anam dinilai memiliki pengalaman dan capaian yang lebih teruji dibandingkan Slamet Sampurno, yang saat itu belum memiliki catatan mentereng sebagai pelatih kepala di kompetisi Liga Indonesia.

"Pergantian pelatih dari level bagus ke level di bawahnya sempat memicu gejolak di kalangan suporter, dan ternyata kekhawatiran itu akhirnya terjadi di pertandingan terakhir,’’ tegas Solichul.

Nada kekecewaan itu muncul karena perubahan tersebut dinilai tidak memberi efek instan. Justru membuat performa Laskar Ronggolawe stagnan di fase penentuan.

Gagal Karena Detail Kecil

Ironisnya, kegagalan Persatu bukan akibat kekalahan telak. Selisih produktivitas gol menjadi pembatas antara bertahan atau pulang lebih cepat.

Di mata suporter, ini memperkuat keyakinan bahwa tim sebenarnya berada di jalur yang benar, sebelum arah itu berubah di tengah jalan.

Momentum yang seharusnya menjadi pijakan ke fase berikutnya justru terlepas oleh detail-detail kecil yang tak terkelola maksimal.

Tak hanya soal teknis, suporter juga menyinggung hubungan tiga pilar utama klub: suporter, Askab PSSI Tuban, dan manajemen Persatu. Sinergi yang sempat digaungkan di awal musim dinilai tidak berjalan konsisten.

"Sinergitas ini sangat penting, dari awal sudah digadang-gadang oleh suporter. Namun, seiring waktu justru tidak berjalan sesuai komitmen awal,’’ ungkap Solichul.

Bagi suporter, komunikasi yang tersendat berujung pada jarak emosional, sesuatu yang berbahaya bagi klub dengan basis dukungan kuat seperti Persatu.

Manajemen Pilih Menunduk dan Berbenah

Dari pihak manajemen, respons disampaikan dengan nada menahan diri. Manajer Persatu Tuban, M. Abdul Rohman, menyatakan klub menerima seluruh kritik sebagai bagian dari proses pendewasaan.

"Kami terima semua kritik, semua masukan ini bagian dari proses demi Persatu menjadi lebih kuat ke depannya. Kami memilih untuk tidak menuding, tapi memahami dengan hati,’’ ujarnya.

Rohman menegaskan perjuangan belum selesai. Evaluasi akan menjadi modal menyongsong musim depan dengan harapan hasil yang lebih berpihak.

"Perjuangan tidak berhenti di musim ini, mari berdiri tegak dan menatap kuat di kompetisi tahun depan. Semoga hasil positif bisa berpihak ke Persatu,’’ katanya.

Bagi publik Tuban, kegagalan ini bukan akhir cerita, melainkan peringatan. Bahwa di sepak bola, satu keputusan di ruang rapat bisa berdampak panjang di lapangan.

Dan bagi Persatu, musim depan tak cukup hanya datang dengan semangat—tetapi juga dengan arah yang jelas. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#pergantian pelatih #piala gubernur jawa timur #suporter #liga 4 #Persatu Tuban #Liga indonesia