Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bukan Soal Ranking, John Herdman Datang dengan Misi Mengubah Takdir Timnas Indonesia

Tulus Widodo • Selasa, 13 Januari 2026 | 15:38 WIB
PSSI resmi umumkan John  Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia Senior
PSSI resmi umumkan John Herdman sebagai pelatih baru Timnas Indonesia Senior

RADARTUBAN – Keputusan John Herdman menerima tantangan melatih Timnas Indonesia bukan sekadar soal kontrak atau panggung.

Ini tentang keyakinan. Tentang proyek jangka panjang yang menuntut kesabaran, kerja sunyi, dan keberanian melawan sejarah.

Di tengah opsi lain dari federasi kawasan CONCACAF, Herdman justru memalingkan wajah ke Asia Tenggara. Ke Indonesia. Negara dengan gairah sepak bola yang nyaris tak pernah padam, tetapi juga sarat luka kegagalan.

"Karier saya hingga saat ini berfokus pada pembangunan. Saya ingin bekerja sama dengan sebuah federasi di negara yang memiliki hasrat dan visi untuk membawa dirinya ke tempat yang belum pernah dicapai sebelumnya," ujar mantan pelatih Timnas Kanada itu dilansir dari akun X @wallpassjournal.

Kalimat itu bukan basa-basi. Dalam rekam jejaknya, Herdman dikenal sebagai pelatih pembangun fondasi, bukan pemburu hasil instan. Indonesia, baginya, bukan proyek singkat—melainkan perjalanan panjang yang menantang.

Baca Juga: John Herdman Pelatih Timnas Indonesia, Era Baru Sepak Bola Nasional Dimulai?

Indonesia Siap, Bukan Sekadar Optimisme

Keyakinan Herdman tidak lahir dari romantisme. Ia berbicara soal kesiapan dengan ukuran yang konkret.

"Negara ini, Indonesia, sudah siap. Kami punya para pemain, kami punya kemampuan, dan kami punya liga profesional. Ini saatnya bagi kami untuk membangun kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan untuk kualifikasi," kata pelatih berkebangsaan Inggris itu.

Pernyataan ini menyiratkan satu pesan penting: masalah Indonesia bukan pada bakat, melainkan kebiasaan.

Disiplin, konsistensi, dan kultur kompetitif. Hal-hal kecil yang selama ini kerap runtuh di momen besar.

Liga profesional yang terus tumbuh, pemain diaspora yang mulai menyatu, serta generasi muda yang lapar prestasi menjadi modal awal.

Namun Herdman tahu, modal tanpa karakter hanya akan jadi statistik.

Peluang Langka di Peta Sepak Bola Dunia

Bagi Herdman, Indonesia bukan tim peringkat rendah yang harus dikasihani. Justru sebaliknya.

"Ini adalah salah satu peluang paling menarik di dunia sepak bola. Ini bukan tentang peringkat; ini tentang peluang besar bagi Indonesia untuk mencapai sesuatu yang tidak pernah terpikirkan oleh kelompok penggemar mana pun - lolos ke Piala Dunia," tutur pelatih berusia 50 tahun itu.

Piala Dunia bukan mimpi kosong di kepalanya. Ini target nyata yang disusun lewat tahapan, bukan teriakan.

Herdman melihat celah sejarah: basis suporter raksasa, pasar sepak bola hidup, dan federasi yang mulai berani bermimpi lebih besar.

Di titik inilah Indonesia menjadi proyek langka—negara dengan energi masif, tetapi belum pernah menyentuh panggung tertinggi.

Obsesi yang Dibawa Setiap Pagi

Tak ada kalimat yang lebih jujur dari pengakuan terakhir Herdman.

"Setiap hari ketika saya bangun tidur, semua yang saya pikirkan—selain keluarga saya—adalah meloloskan tim ini (Timnas Indonesia) ke Piala Dunia," tandas mantan arsitek Toronto FC itu.

Ini bukan janji manis. Ini obsesi. Dan dalam sepak bola, perubahan besar sering lahir dari pelatih yang terobsesi pada satu tujuan, lalu memaksa seluruh ekosistem bergerak ke arah yang sama.

Indonesia kini tak lagi sekadar berharap. Dengan Herdman, harapan itu berubah menjadi rencana kerja.

Berat, panjang, dan penuh risiko. Tapi untuk pertama kalinya, mimpi Piala Dunia terdengar lebih dari sekadar nyanyian tribun. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#piala dunia #FIFA #Rangking #John Herdman #timnas indonesia