RADARTUBAN - Gagal mengamankan Marc Guéhi yang kini merapat ke Manchester City tak membuat Liverpool terjebak dalam kekecewaan berkepanjangan.
Menurut informasi dari @TEAMtalk, klub Merseyside itu bergerak cepat, menyusun ulang prioritas, dan mengunci satu nama besar sebagai target utama di jantung pertahanan: Alessandro Bastoni.
Bek kiri berpostur tinggi milik pemuncak klasemen sementara Serie A, Inter Milan itu masuk daftar teratas Liverpool untuk proyek peremajaan lini belakang.
Usianya 26 tahun—cukup matang, namun masih punya ruang tumbuh—dan kontraknya menyisakan 2,5 tahun.
Situasi ini membuat Bastoni berada di persimpangan karier yang menarik.
Bastoni dan Godaan Tantangan Baru
Bastoni disebut terbuka untuk menguji diri di luar Italia. Bagi Liverpool, ini bukan sekadar peluang transfer, melainkan momen strategis.
Bastoni bukan hanya bek bertahan; ia terbiasa membangun serangan dari belakang, nyaman dengan garis pertahanan tinggi, dan matang dalam tekanan laga besar—profil yang cocok dengan kebutuhan Liverpool pasca era transisi.
Inter Milan tentu tak akan melepas aset utamanya dengan mudah. Namun, sisa kontrak dan hasrat sang pemain untuk merantau membuat negosiasi berpotensi terbuka, selama angka yang diajukan sepadan.
Schlotterbeck, Opsi Kuat dari Bundesliga
Selain Bastoni, satu nama lain juga masuk dalam daftar pendek Liverpool: Nico Schlotterbeck. Bek Borussia Dortmund itu dipantau sebagai alternatif serius.
Usianya lebih muda, agresif, dan punya karakter duel yang kuat—tipikal bek Bundesliga yang berani bermain satu lawan satu.
Schlotterbeck diperkirakan baru akan mengambil langkah besar setelah Piala Dunia musim panas nanti.
Liverpool memahami dinamika ini dan tampak siap bersabar, sembari memetakan waktu terbaik untuk bergerak.
Baca Juga: Chelsea Resmi Pecat Enzo Maresca Awal 2026, Manchester City dan Juventus Disorot
Strategi Transfer yang Lebih Terukur
Masuknya Bastoni dan Schlotterbeck ke radar menunjukkan perubahan pendekatan Liverpool.
Bukan sekadar menambal lubang setelah gagal mendapatkan Guéhi, melainkan menyusun ulang fondasi pertahanan untuk jangka menengah.
Klub tak lagi berburu nama sensasional, tapi profil bek yang benar-benar sesuai kebutuhan sistem.
Liverpool gagal di satu pintu, namun justru menemukan dua jalan lain yang sama menarik—bahkan mungkin lebih relevan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni