RADARTUBAN - Persib Bandung akhirnya duduk sejajar dengan raksasa Asia Tenggara.
Berdasarkan data Transfermarkt, nilai pasar skuad Maung Bandung kini mencapai Rp 136,63 miliar, menempatkan Persib di peringkat kelima klub ASEAN dengan market value termahal.
Ini bukan sekadar angka, melainkan penanda perubahan arah—bahwa klub Indonesia mulai berbicara di level regional, bukan hanya domestik.
Di tengah dominasi klub-klub mapan dari Thailand dan Malaysia, kemunculan Persib di lima besar adalah sinyal keras: Liga Indonesia pelan-pelan mengejar ketertinggalan struktur dan investasi.
Peta Kekuatan Baru Klub ASEAN
Daftar ini masih dipimpin oleh kekuatan lama. Johor Darul Ta’zim (Malaysia) berada di puncak dengan nilai skuad Rp 234,65 miliar, disusul Buriram United (Thailand) senilai Rp 226,40 miliar.
Kedua klub itu konsisten membangun tim dengan fondasi finansial kuat, manajemen stabil, dan visi jangka panjang.
Vietnam ikut menyodok lewat Nam Dinh FC (Rp 177,74 miliar), sementara Thailand kembali menempatkan wakilnya melalui Bangkok United (Rp 136,86 miliar).
Persib tepat di bawahnya, unggul tipis atas Lion City Sailors (Singapura) yang bernilai Rp 131,75 miliar.
Persaingan kini tak lagi soal tradisi, tetapi keberanian berinvestasi dan ketepatan strategi.
Persib dan Harga dari Ambisi
Masuknya Persib ke lima besar bukan hadiah instan. Ini buah dari keberanian klub mempertahankan pemain bernilai tinggi dan mendatangkan legiun asing berkualitas.
Serta, menjaga daya tarik komersial yang kuat—mulai dari basis suporter hingga eksposur media.
Namun, market value juga membawa konsekuensi. Harga tinggi menuntut prestasi setara.
Di level ASEAN, Persib tak cukup hanya tampil; mereka harus menang, bersaing, dan meninggalkan jejak di kompetisi regional.
Cermin untuk Liga Indonesia
Posisi Persib adalah kabar baik sekaligus pengingat keras bagi klub-klub Indonesia lain. Potensi pasar ada, basis massa besar, dan daya tarik sponsor kuat. Yang sering tertinggal hanyalah konsistensi pengelolaan.
Jika satu klub bisa menembus lima besar ASEAN, maka secara logika, liga seharusnya mampu melahirkan lebih dari satu wakil di papan atas regional.
Bukan Akhir, Tapi Titik Awal
Lima besar ASEAN bukan garis finis. Ini justru titik start bagi skuad besutan Bojan Hodak untuk menguji diri di level yang lebih jujur dan keras.
Di Asia Tenggara, uang memang penting. Tapi tanpa manajemen cerdas dan prestasi nyata, angka hanya akan jadi catatan statistik.
Kini Persib sudah di meja elite. Tinggal satu pertanyaan tersisa: berani bertarung, atau sekadar numpang nama? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni