RADARTUBAN – Kamis malam nanti, Stadion Olimpico Roma tak sekadar menjadi panggung laga Eropa. Ada cerita lain yang mengendap di balik sorak tribun.
Pertandingan melawan Panathinaikos berpotensi menjadi bab terakhir Evan Ferguson bersama AS Roma.
Isu itu mencuat setelah komposisi lini depan Giallorossi berubah drastis. Kedatangan dua penyerang baru—Donyell Malen dan Robinio Vaz—secara otomatis menggeser peta persaingan di sektor paling krusial.
Allenatore Roma, Gian Piero Gasperini kini tidak lagi kekurangan opsi. Justru sebaliknya, ruang bernapas bagi Ferguson makin sempit.
Baca Juga: AS Roma Ngebut di Bursa Transfer: Dua Nama, Dua Arah, Satu Ambisi Besar di Serie A
Persaingan yang Tak Lagi Ramah
Ferguson datang ke Roma dengan label besar sebagai eks Brighton, membawa ekspektasi dan janji perkembangan.
Namun sepak bola tak pernah soal reputasi semata. Ini soal momentum, kepercayaan pelatih, dan kebutuhan tim.
Dengan dua centravanti baru yang lebih sesuai dengan kebutuhan taktis, posisi Ferguson berada di titik rawan.
Roma, dalam konteks ini, bersikap pragmatis. Klub membaca situasi, bukan perasaan.
Jika komposisi sudah dianggap lengkap, maka keberadaan pemain pelapis dengan menit bermain minim menjadi tanda tanya besar.
Laga Emosional di Panggung Eropa
Laga kontra Panathinaikos pun berpotensi sarat makna personal. Jika benar menjadi penampilan terakhir Ferguson, maka ini bukan sekadar pertandingan fase grup.
Ini bisa menjadi panggung perpisahan yang sunyi—tanpa seremoni, tanpa pidato, hanya tepuk tangan terakhir.
Situasi ini pertama kali diungkap oleh @angelomangiante kepada @manasportroma, yang menyebut masih terbuka kemungkinan Ferguson meninggalkan Roma dalam waktu dekat.
Namun semuanya bergantung pada satu faktor kunci: kehendak sang pemain.
Keputusan di Tangan Ferguson
Keputusan akhir tak sepenuhnya berada di meja direksi. Roma menunggu sinyal.
Ferguson yang harus menentukan apakah ia siap bertahan dan berjuang dari posisi terpinggirkan. Atau memilih membuka lembar baru demi menit bermain dan kepercayaan penuh.
Sepak bola Eropa tak memberi banyak waktu untuk ragu. Kamis malam nanti, bola akan bergulir. Bersamaan dengan itu, masa depan Evan Ferguson di Roma bisa ikut bergerak—maju, atau justru berakhir.
Satu hal pasti, laga ini bukan pertandingan biasa. Ini tentang nasib, pilihan, dan harga sebuah kesempatan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni