RADARTUBAN - Persebaya Surabaya sedang menabung masa depan. Bukan lewat jargon, bukan pula janji kosong, melainkan melalui menit bermain yang nyata.
Data resmi yang dirilis akun X Official Persebaya menunjukkan satu hal penting: pemain U-23 bukan sekadar pelengkap daftar susunan pemain. Mereka sudah ikut menggerakkan denyut tim.
Empat nama muda muncul ke permukaan. Angkanya mungkin tak selalu mencolok bagi pemburu sensasi, tetapi bagi klub yang ingin berumur panjang, menit adalah mata uang paling jujur.
Baca Juga: Persebaya Surabaya Punya Manajer Baru, Sidiq Maulana Tualeka. Harapan Baru Bagi Bonek dan Klub
Toni Firmansyah: Dipercaya Tanpa Basa-Basi
Toni Firmansyah mencatat 1.023 menit bersama Persebaya pada Super League musim 2025/2026.
Angka ini bukan kebetulan. Toni bermain konsisten, bukan cameo. Kepercayaan pelatih padanya lahir dari kebutuhan tim, bukan karena label usia muda.
Di lapangan, Toni tak terlihat seperti pemain yang “sedang belajar”. Pemain 21 tahun itu sudah berada di fase “sedang dibutuhkan”.
Sadida Nugraha: Proses yang Pelan Tapi Tegas
Sadida Nugraha mengoleksi 298 menit. Tidak besar, tidak pula remeh. Ini jenis menit yang biasanya diberikan kepada pemain yang sedang diuji mental dan pemahamannya.
Sadida belum jadi pilihan utama, tetapi jelas sedang disiapkan. Persebaya tidak tergesa. Sadida pun tidak dipaksa melompat. Ia bertumbuh dengan ritme yang masuk akal.
Mochammad Ichsas: Menit Awal, Jalan Masih Panjang
Nama Mochammad Ichsas tercatat bermain 119 menit. Ini pintu awal. Sebuah sinyal bahwa Persebaya membuka ruang, meski belum sepenuhnya melepas kendali.
Bagi pemain muda, menit seperti ini bukan sekadar statistik. Ini undangan untuk membuktikan diri—atau tersingkir dengan sunyi.
Dimas Wicaksono: Kesempatan Itu Nyata
Dimas Wicaksono mendapat 94 menit. Angka paling kecil, tetapi bukan tanpa arti. Justru di sinilah mental diuji.
Tidak semua pemain muda diberi panggung besar sejak awal. Sebagian harus menunggu, bertahan, dan terus siap. Dimas sudah masuk lingkaran itu.
Investasi Sunyi Persebaya
Persebaya tidak sedang menjual mimpi. Klub berjuluk Bajul Ijo itu sedang membangun fondasi. Empat pemain U-23 ini adalah potongan puzzle yang belum selesai, tetapi sudah mulai terlihat bentuknya.
Minim sorotan, minim sensasi, namun penuh arah. Dalam sepak bola, masa depan jarang lahir dari keramaian. Ia tumbuh diam-diam—lewat menit bermain yang terus bertambah.
Keempat pemain itu harus benar-benar memaksimalkan kesempatan yang diberikan coach Bernardo Tavarez.
Keep growing, Rek. Di Persebaya, pertumbuhan bukan slogan. Itu tercatat di papan statistik, dan dirasakan di lapangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni