RADARTUBAN - Realitas keras transfer Januari kembali menjadi sorotan setelah mantan pemain Manchester City, Nedum Onuoha, membagikan pengalaman pahitnya saat pindah klub di tengah musim kompetisi.
Bursa transfer Januari selalu menghadirkan dinamika yang berbeda dibandingkan jendela transfer musim panas karena keputusan harus diambil dalam situasi mendesak.
Menjelang penutupan bursa pada 2 Februari, sejumlah klub Liga Inggris masih aktif mencari pemain tambahan demi memperbaiki performa tim.
Crystal Palace disebut sedang mengupayakan transfer striker Wolves, Jorgen Strand-Larson, pada akhir bursa transfer Januari.
Sementara itu, Raheem Sterling masih berstatus tanpa klub usai kontraknya dengan Chelsea resmi berakhir.
Manchester City menjadi salah satu klub paling agresif pada bursa transfer Januari kali ini setelah merekrut Antoine Semenyo dan Marc Guehi.
Pengalaman Nedum Onuoha Tinggalkan Manchester City
Nama Nedum Onuoha kembali mencuat setelah ia mengulas pengalaman pribadinya saat meninggalkan Manchester City pada Januari 2012.
Mantan bek tersebut menghabiskan 14 musim di Premier League bersama Manchester City, Sunderland, dan Queens Park Rangers.
Dalam kolomnya di ESPN, Nedum Onuoha mengungkap bahwa dirinya sebenarnya sudah bersiap hengkang dari Manchester City sejak Agustus 2011.
Ia bahkan telah berpamitan kepada rekan-rekan setimnya sebelum rencana kepindahan itu gagal terwujud.
Kepindahan baru terjadi pada 26 Januari 2012 ketika Onuoha resmi menandatangani kontrak berdurasi empat setengah tahun bersama Queens Park Rangers.
Tekanan Berat di Tengah Bursa Transfer Januari
Onuoha mengakui bahwa bergabung dengan klub yang tengah berjuang menghindari degradasi bukanlah perkara mudah.
“Setelah transfer selesai, saya harus langsung tampil maksimal, padahal saya sudah berbulan-bulan tidak bermain,” ujar Onuoha.
“Tidak ada waktu untuk beradaptasi,” lanjutnya.
Ia menggambarkan suasana ruang ganti yang penuh tekanan akibat hasil buruk dan posisi tim di papan bawah klasemen.
“Anda datang sebagai orang baru di ruang ganti, tim berada di papan bawah klasemen, suasananya tegang karena terus kalah, dan Anda didatangkan untuk memperbaiki keadaan,” ucapnya.
Situasi tersebut, menurut Nedum Onuoha, kerap memicu konflik internal di dalam tim.
“Saya melihat banyak pertengkaran antar pemain karena emosi yang memuncak,” katanya.
Konflik Internal Jadi Tantangan Pemain Baru
Onuoha juga menceritakan insiden adu fisik antar pemain yang terjadi akibat perbedaan pandangan.
“Pernah suatu kali, dua pemain berpengalaman sampai baku hantam di lapangan stadion karena memiliki pandangan berbeda soal apa yang terbaik bagi tim dan bagi diri mereka masing-masing,” ungkapnya.
Menurutnya, konflik tersebut mencerminkan sulitnya menyatukan pemain lama dan pemain baru di bursa transfer Januari.
“Yang satu adalah pemain baru, sementara yang lain sudah lama berada di klub,” jelasnya.
Hanya Pemain Top yang Punya Kendali
Di akhir tulisannya, Nedum Onuoha menegaskan bahwa tidak semua pemain memiliki kebebasan menentukan arah kariernya.
“Maaf jika harus mematahkan anggapan banyak orang, tetapi hanya pemain-pemain papan atas yang benar-benar bisa menentukan bagaimana karier mereka berjalan,” tutup Onuoha.
Pernyataan tersebut kembali menegaskan bahwa realitas keras transfer Januari bukan sekadar soal pindah klub, tetapi juga tentang kesiapan mental dan kondisi tim yang dihadapi. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni