RADARTUBAN - Keuntungan kandang Liga Champions kini menjadi faktor krusial dalam perjalanan klub-klub elite Eropa pada musim kompetisi terbaru setelah UEFA menerapkan format dan regulasi baru.
Perubahan aturan ini membuat posisi klasemen fase liga tidak sekadar formalitas, melainkan penentu besar nasib tim di babak gugur.
UEFA secara resmi menetapkan bahwa tim dengan peringkat lebih tinggi di fase liga akan selalu memainkan leg kedua babak gugur di kandang sendiri.
Kebijakan tersebut langsung berdampak pada peta persaingan di fase gugur Liga Champions, terutama sejak babak 16 besar.
Baca Juga: Mbappé Meledak, UEFA Rilis Team of the Week Penuh Bintang Matchday 5 Champions League
Delapan Tim Lolos Langsung ke 16 Besar
Sebanyak delapan tim memastikan tiket langsung ke babak 16 besar setelah finis di posisi delapan besar fase liga.
Arsenal, Bayern Munich, Liverpool, Tottenham Hotspur, Barcelona, Chelsea, Sporting Lisbon, dan Manchester City menjadi tim-tim yang menikmati keuntungan awal dari format baru ini.
Keuntungan tersebut bukan hanya soal lolos otomatis, tetapi juga menyangkut keuntungan kandang Liga Champions pada laga-laga krusial.
Jalur Play-off dan Potensi Kejutan
Sementara itu, tim peringkat 9 hingga 24 harus melalui undian play-off babak gugur yang digelar di Swiss.
Newcastle United dipertemukan dengan Qarabag, sedangkan Real Madrid harus kembali menghadapi Benfica dalam laga ulangan fase liga.
Dari jalur inilah potensi kejutan di fase gugur Liga Champions mulai terbuka lebar.
Aturan Baru UEFA soal Home Advantage
Dalam aturan UEFA Champions League terbaru, tim peringkat pertama dan kedua fase liga akan selalu menjadi tuan rumah pada leg kedua hingga semifinal.
Tim peringkat ketiga dan keempat tetap mendapat keuntungan kandang, tetapi hanya sampai babak perempat final.
Aturan ini menjadikan home advantage Liga Champions sebagai aset strategis, bukan sekadar bonus.
Keuntungan Kandang Bisa “Dicuri”
Menariknya, keuntungan tersebut tidak bersifat mutlak.
UEFA membuka celah bagi tim non-unggulan untuk mengambil alih status unggulan jika mampu menyingkirkan tim berperingkat lebih tinggi.
Laporan media Spanyol, AS, menyoroti mekanisme ini sebagai perubahan besar dalam aturan UEFA Champions League.
“Sebagai contoh, jika tim yang finis di peringkat ke-16 menyingkirkan tim peringkat kedua pada babak 16 besar, maka tim peringkat ke-16 tersebut akan mengambil status unggulan nomor dua untuk sisa turnamen dan berhak memainkan leg kedua di kandang,” tulis laporan tersebut.
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa keuntungan kandang Liga Champions bisa berpindah tangan secara sah.
Dasar Regulasi UEFA
Ketentuan ini tercantum dalam Pasal 19.04 Regulasi Liga Champions UEFA.
“Tim unggulan, yaitu tim peringkat satu hingga empat setelah fase liga, memainkan leg kedua di kandang pada babak perempat final, dan tim peringkat satu serta dua juga memainkan leg kedua semifinal di kandang,” bunyi regulasi tersebut.
“Aturan UEFA Champions League menyebutkan bahwa jika tim unggulan tersingkir, maka tim yang mengalahkannya akan mewarisi posisi unggulan tersebut tanpa penghitungan ulang.”
Aturan ini semakin menegaskan bahwa performa di fase gugur Liga Champions dapat mengalahkan status klasemen awal.
Potensi Skenario Manchester City
Salah satu skenario menarik melibatkan Manchester City yang finis di peringkat kedelapan fase liga.
City berpotensi menghadapi Arsenal pada babak perempat final.
Jika City mampu menyingkirkan Arsenal, maka home advantage Liga Champions milik The Gunners akan berpindah tangan.
Kondisi ini membuat setiap laga di fase gugur memiliki konsekuensi berlapis.
Format Baru, Tekanan Baru
Dengan format ini, keuntungan kandang Liga Champions bukan lagi sekadar hasil undian.
Setiap tim dituntut konsisten sejak fase liga hingga fase gugur Liga Champions.
UEFA melalui aturan barunya mendorong kompetisi yang lebih kompetitif dan penuh risiko.
Perubahan aturan UEFA Champions League ini juga membuka peluang kejutan, sekaligus meningkatkan nilai taktis setiap pertandingan.
Bagi klub-klub Eropa, satu kemenangan besar kini bisa mengubah seluruh peta jalan menuju final. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni