RADARTUBAN – AC Milan kembali menemukan denyut kejayaan dari bangku cadangan.
Di bawah kendali Massimiliano Allegri, Rossoneri mencatatkan 22 laga tak terkalahkan—sebuah torehan yang kini resmi masuk daftar rekor terpanjang sepanjang sejarah klub sejak 1950.
Catatan itu menempatkan Allegri sejajar dengan nama-nama besar yang membentuk DNA Milan.
Bukan sekadar angka, melainkan sinyal kuat bahwa Milan sedang berada di jalur stabilitas dan konsistensi yang lama dirindukan.
Baca Juga: AC Milan Siapkan Negosiasi Musim Panas untuk Moise Kean, Allegri Dorong Transfer Strategis
Masuk Klub Elite Sejarah Milan
Rekor Allegri berdiri di antara deretan era emas Milan. Puncaknya masih dipegang duet Arrigo Sacchi (1)–Fabio Capello (57) dengan 58 laga tak terkalahkan pada periode 1991–1993.
Namun, posisi Allegri yang sudah menyentuh angka 22 menegaskan bahwa musim 2025–2026 bukan musim biasa.
Daftar rekor tak terkalahkan Milan sejak 1950 mencatat:
• 58 (Sacchi (1)–Capello (57), 1991–1993)
• 27 (Pioli, 2020–2021)
• 24 (Sacchi, 1987–1988)
• 24 (Czeizler, 1950–1951)
• 23 (Sacchi, 1988–1989)
• 23 (Liedholm, 1964–1965)
• 22 (Allegri, 2025–2026)
• 21 (Rocco, 1970–1971)
• 19 (Ancelotti, 2004)
• 18 (Sacchi, 1989–1990)
• 17 (Pioli, 2021)
• 17 (Bonizzoni, 1958–1959)
Angka-angka itu bukan sekadar statistik. Di baliknya ada konteks zaman, tekanan kompetisi, dan ekspektasi publik San Siro yang selalu menuntut lebih.
Baca Juga: Tren Kemenangan 1-0 Beruntun Milan Picu Euforia Baru, Efek Allegri Disebut Mulai Terasa di San Siro
Allegri dan Stabilitas yang Lama Hilang
Yang membuat rekor ini terasa spesial adalah cara Milan mencapainya. Allegri tidak menjanjikan sepak bola romantik setiap pekan.
Mantan allenatore Juventus itu menawarkan sesuatu yang lebih mendasar: hasil. Milan mungkin tak selalu menang dengan pesta gol, namun mereka jarang tumbang.
Dalam atmosfer Serie A yang kian kompetitif, konsistensi menjadi mata uang mahal. Allegri memahami itu.
Rotasi terukur, pendekatan pragmatis, dan kontrol emosi tim menjadi pondasi utama rangkaian tak terkalahkan ini.
Sejajar Sacchi, Ancelotti, hingga Capello
Masuknya nama Allegri ke daftar ini otomatis menempatkannya sejajar dengan para arsitek legendaris Milan.
Sacchi dengan revolusi taktiknya. Capello dengan dominasi tanpa kompromi. Ancelotti dengan keseimbangan elegan.
Kini, Allegri hadir dengan versinya sendiri: efisien, dingin, dan efektif.
Bagi publik Milan, ini bukan sekadar nostalgia angka. Ini tentang identitas yang mulai kembali terbentuk—tim yang sulit dikalahkan, bahkan saat tidak berada di performa terbaik.
Tantangan Berikutnya
Rekor 22 laga belumlah akhir. Justru di titik ini, tekanan terbesar muncul. Setiap pertandingan berikutnya akan menjadi ujian mental, karena sejarah menunggu di depan mata.
Menyamai atau bahkan melampaui catatan era Sacchi bukan hal mustahil, namun membutuhkan fokus tanpa cela.
Satu hal pasti: Allegri sudah menancapkan namanya di buku besar Milan. Dan jika tren ini berlanjut, musim ini bisa dikenang bukan hanya karena statistik, tetapi karena kebangkitan karakter Rossoneri yang sesungguhnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni