Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Dari Galácticos Versi Turin ke Belanja Sunyi: Wajah Baru Raksasa Serie A Juventus di Bursa Transfer

Tulus Widodo • Jumat, 6 Februari 2026 | 11:15 WIB
Logo Juventus
Logo Juventus

RADARTUBAN – Raksasa Serie A, Juventus sedang berubah. Bukan sekadar berganti pelatih atau merombak skema permainan, tetapi mengoreksi cara berpikir di bursa transfer.

Jika dulu Juventus dikenal sebagai pemburu nama besar tanpa ragu, kini Si Nyonya Tua memilih melangkah lebih pelan—bahkan nyaris tanpa suara.

Perbandingan dengan era belanja lama menunjukkan kontras yang tajam. Hampir seperti dua klub berbeda, meski seragamnya sama.

Baca Juga: Juventus Bidik Marcos Senesi Gratisan, Benteng Bournemouth Jadi Target Serius Musim Panas

Era Lama: Kuasa Finansial dan Mental Juara Instan

Pada periode emas pasca-Calciopoli hingga akhir dekade 2010-an, Juventus bermain dengan logika sederhana: menang sekarang, bayar belakangan.

Nama-nama besar datang silih berganti:

- Gonzalo Higuaín (€ 90 juta)

- Cristiano Ronaldo (€ 100+ juta)

- Matthijs de Ligt (€ 85 juta)

- Arthur Melo–Pjanić (rekayasa nilai)

Belanja besar kala itu bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan pernyataan dominasi.

Juventus ingin tetap jadi pusat gravitasi Serie A dan bersaing di Eropa lewat efek kejut.

Namun ada harga yang dibayar mahal:

-gaji membengkak,

- struktur skuad tak seimbang,

- pemain datang tanpa benar-benar cocok dengan pelatih.

Transfer kerap lebih mengikuti kesempatan pasar ketimbang kebutuhan taktik.

Era Transisi: Banyak Nama, Minim Dampak

Memasuki awal 2020-an, pola lama mulai memakan korban. Juventus masih mendatangkan pemain, tetapi arah makin kabur.

Gratisan seperti Ramsey, Rabiot, Pogba (periode kedua) terlihat cerdas di atas kertas, namun menjadi beban di lapangan dan neraca gaji.

Pelatih berganti, filosofi tak pernah benar-benar utuh.

Juventus saat itu seperti pasar malam: ramai, berisik, tapi sulit menemukan barang yang benar-benar dibutuhkan.

Era Baru: Sedikit, Tepat, dan Sepenuhnya Sejalan Pelatih

Pendekatan terkini—seperti dilaporkan Romeo Agresti—menandai titik balik paling serius.

Juventus kini memilih: sedikit rekrutan, gratisan berkualitas, dan fokus hanya pada dua posisi krusial.

Yang paling signifikan: pelatih dilibatkan penuh sejak awal. Luciano Spalletti bukan sekadar penerima skuad, melainkan arsitek arah belanja.

Prinsipnya tegas: lebih baik tidak membeli siapa pun daripada membawa pemain yang tidak diminta.

Ini bertolak belakang dengan era lama, ketika pelatih sering dipaksa “menyesuaikan” pemain mahal yang sudah terlanjur datang.

Perubahan Mentalitas: Dari Ego ke Disiplin

Jika era lama Juventus digerakkan oleh ego dan ambisi instan, era sekarang dibangun di atas disiplin dan kesadaran batas.

Juventus tak lagi ingin menjadi klub dengan headline terbesar di hari pertama mercato.
Mereka ingin menjadi klub dengan keputusan paling sedikit salah.

Gratisan seperti Senesi, Schlager, Kessié, Bernardo Silva, atau Çelik bukan simbol kemunduran, melainkan tanda pemulihan logika.

Risiko Tetap Ada, Tapi Lebih Terkontrol

Tentu, pendekatan ini bukan tanpa risiko. Tanpa belanja besar, margin kesalahan di lapangan makin kecil.

Jika satu target utama gagal, Juventus tak punya banyak “pelapis mahal”. Namun berbeda dengan masa lalu, kegagalan kini tidak menggerus fondasi klub.

Juventus Tak Lagi Berisik, Tapi Lebih Dewasa

Perbandingan ini memperlihatkan satu kesimpulan jelas: Juventus hari ini bukan Juventus yang lapar trofi dengan cara apa pun.

Mereka adalah klub yang belajar dari luka finansial dan kesalahan struktural. Tak glamor. Tak gegap gempita.

Namun mungkin—untuk pertama kalinya setelah lama—Juventus benar-benar tahu apa yang mereka butuhkan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Juventus #bursa transfer #serie A