RADARTUBAN - Napoli resmi kehilangan dua panggung besar musim ini. Harapan mereka di Liga Champions dan Coppa Italia telah berakhir.
Fakta itu dikonfirmasi oleh laporan akun X EuroFoot, yang menyebut bahwa skuad asuhan Antonio Conte kini hanya menyisakan Serie A sebagai satu-satunya kompetisi hingga akhir musim.
Musim yang sejak awal dijanjikan sebagai fase kebangkitan, perlahan berubah menjadi ujian mental dan konsistensi.
Dua pintu tertutup nyaris bersamaan, meninggalkan satu lorong sempit yang harus dilalui Napoli tanpa ruang untuk terpeleset.
Baca Juga: Jelang Laga Napoli vs Roma: Kondisi Scott McTominay Jadi Sorotan Jelang Laga Penting Serie A
Conte dan Tekanan yang Tak Bisa Ditawar
Bagi Antonio Conte, situasi ini bukan sekadar soal kalender pertandingan yang lebih longgar. Ini adalah soal taruhan reputasi.
Conte dikenal sebagai pelatih spesialis liga domestik, sosok yang membangun tim dengan disiplin keras dan tuntutan absolut.
Namun, ekspektasi Napoli musim ini bukan main-main. Gugur di dua kompetisi lebih cepat dari harapan jelas meninggalkan rasa pahit, baik di ruang ganti maupun di tribun Stadion Diego Armando Maradona.
Kini, tak ada lagi dalih rotasi besar-besaran. Tak ada lagi alasan menyimpan tenaga. Setiap pekan Serie A berubah menjadi final kecil bagi Napoli.
Serie A Jadi Medan Tempur Terakhir
Dengan tersingkirnya Napoli dari dua turnamen, Serie A menjadi satu-satunya panggung pembuktian.
Target pun otomatis meninggi—bukan sekadar bertahan di papan atas. Tetapi menempel ketat perebutan Scudetto atau setidaknya tiket Liga Champions musim depan.
Kondisi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, fokus penuh memberi keuntungan fisik.
Di sisi lain, tekanan psikologis meningkat drastis karena tidak ada lagi tempat bersembunyi.
Setiap hasil imbang akan terasa seperti kekalahan. Setiap kekalahan bisa bergaung lebih keras dari biasanya.
Suporter Menunggu, Klub Tak Boleh Gagal
Napoli adalah kota yang hidup dari sepak bola. Kegagalan di Eropa dan Coppa Italia tak akan dilupakan begitu saja, kecuali Serie A mampu ditebus dengan hasil nyata.
Antonio Conte kini berdiri di persimpangan klasik: mencatat musim ini sebagai fondasi kebangkitan—atau justru awal kegelisahan baru.
Yang pasti, sampai peluit akhir musim berbunyi, Napoli tak punya pilihan selain berlari lurus ke depan, tanpa menoleh ke belakang. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni