RADARTUBAN – Kabar kurang sedap datang dari Bergamo. Charles De Ketelaere harus naik meja operasi setelah mengalami masalah pada lutut kanan.
Gelandang serang andalan Atalanta itu menjalani prosedur artroskopi dengan tindakan meniscectomia selettiva interna.
Informasi tersebut disampaikan langsung oleh jurnalis transfer Italia Nicolò Schira melalui akun X miliknya.
Dalam pernyataan itu ditegaskan, De Ketelaere diproyeksikan kembali merumput pada akhir Maret.
Operasi Selesai, Waktu Berpacu dengan Kalender
Secara medis, meniscektomi selektif tergolong prosedur yang relatif aman dan minim risiko jangka panjang.
Namun, sepak bola level atas tak hanya soal sembuh, melainkan kesiapan fisik dan ritme bermain.
Akhir Maret berarti De Ketelaere akan masuk fase krusial musim dengan waktu adaptasi yang sangat terbatas.
Atalanta tak punya kemewahan menunggu terlalu lama. Setiap laga kini bernilai ganda: menjaga posisi di papan atas sekaligus memastikan kontinuitas performa.
Dampak Taktis: Lubang di Antarlini
Absennya De Ketelaere bukan sekadar kehilangan satu nama di starting XI. Pemain Belgia itu berperan sebagai penghubung antarlini—membaca ruang, memecah blok lawan, sekaligus menjadi pemantik serangan dari half-space.
Tanpa dirinya, manajer Atalanta Raffaele Palladino dipaksa memutar otak. Opsi rotasi mungkin tersedia, tetapi karakter bermain De Ketelaere sulit ditiru.
Ini akan berdampak langsung pada fluiditas serangan dan efektivitas transisi menyerang.
Ujian Kedalaman Skuad dan Mental Tim
Cedera ini juga menjadi tes kedalaman skuad La Dea. Di satu sisi, ada kesempatan bagi pemain lain untuk unjuk gigi. Di sisi lain, tekanan meningkat—baik secara teknis maupun psikologis.
Bagi De Ketelaere sendiri, masa pemulihan ini bukan hanya soal lutut, melainkan menjaga kepercayaan diri.
Kembali di fase akhir musim menuntut kesiapan mental ekstra, karena margin kesalahan nyaris tak ada.
Menanti Akhir Maret, Menanti Jawaban
Atalanta kini hanya bisa berharap proses pemulihan berjalan sesuai rencana. Akhir Maret menjadi penanda: apakah De Ketelaere mampu kembali tepat waktu dan langsung memberi dampak, atau justru membutuhkan fase adaptasi lebih panjang.
Yang jelas, satu hal tak terbantahkan—operasi ini memaksa Atalanta menata ulang cerita musimnya, dengan atau tanpa sang kreator Belgia di lapangan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni