Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Italia Terjepit, Jerman Menguat: Perburuan Tiket Tambahan Liga Champions Makin Panas

Tulus Widodo • Rabu, 18 Februari 2026 | 15:45 WIB

 

Ilustrasi piala Liga Champions
Ilustrasi piala Liga Champions

RADARTUBAN - Di saat persaingan Eropa memasuki fase paling menentukan, Italia justru terpeleset di tikungan tajam.

Kekalahan yang dialami Juventus dan Atalanta menjadi alarm keras dalam perburuan satu tiket tambahan Liga Champions musim depan—jatah yang kini ditentukan lewat peringkat koefisien UEFA.

Data terbaru yang dirilis akun X Football Rankings menunjukkan posisi Italia makin rapuh.

Dengan raihan 15.500 poin, Italia kini melorot ke peringkat kelima, tertinggal dari pesaing langsung yang tampil lebih stabil di kompetisi Eropa.

Kekalahan Juventus dan Atalanta bukan sekadar hasil buruk satu malam. Dampaknya sistemik.

Setiap kegagalan klub di fase gugur langsung menggerus peluang federasi untuk finis di dua besar klasemen koefisien—syarat mutlak mendapat jatah ekstra Liga Champions.

Baca Juga: Prediksi Skor Bodø/Glimt vs Inter Milan di Liga Champions, Ujian Berat Kuda Hitam Norwegia di Play-off

Jerman Di Atas Angin, Menang di Laga Enam Poin

Sebaliknya, Jerman justru menegaskan status favorit. Kemenangan Borussia Dortmund dalam duel langsung antarklub Eropa memberi dorongan signifikan pada koefisien Bundesliga.

Dengan 16.500 poin, Jerman kini nyaman di posisi ketiga dan terus menekan Portugal di atasnya.

Konsistensi klub-klub Jerman di fase gugur menjadi pembeda—bukan sekadar lolos, tapi juga mampu bertahan dan menang di laga-laga krusial.

Situasi ini membuat Jerman secara matematis dan momentum masih sangat difavoritkan untuk finis di dua besar.

Portugal Masih Bertahan, Tapi Mulai Terdesak

Posisi Portugal memang masih di dua besar dengan 16.600 poin, namun tekanan kian terasa.

Kekalahan Benfica menjadi sinyal bahaya. Margin dengan Jerman kini menipis, dan setiap hasil negatif berikutnya bisa berujung fatal.

Dengan jumlah klub tersisa yang lebih sedikit dibanding Inggris dan Jerman, ruang kesalahan Portugal semakin sempit. Satu malam buruk saja bisa mengubah peta.

Inggris Melaju Sendiri, Liga Lain Saling Sikut

Sementara itu, Inggris praktis tak tersentuh di puncak klasemen. Raihan 20.958 poin dengan catatan 9 dari 9 klub masih bertahan menjadikan Premier League berada di liga sendiri—unggul jauh, stabil, dan hampir mustahil terkejar.

Di bawahnya, Spanyol, Prancis, hingga Polandia masih saling sikut. Namun realistisnya hanya tiga negara—Portugal, Jerman, dan Italia—yang benar-benar terlibat duel hidup-mati untuk satu tiket tambahan.

Satu Tiket, Banyak Korban

Format baru Liga Champions membuat satu tiket tambahan terasa lebih kejam dari sekadar angka.

Ini soal gengsi liga, pemasukan klub, dan peta kekuatan Eropa musim depan.

Bagi Italia, waktunya hampir habis. Tanpa kebangkitan di sisa laga Eropa, Serie A berisiko hanya menjadi penonton saat rivalnya berpesta.

Perburuan belum selesai. Tapi satu hal jelas: setiap pertandingan kini bernilai masa depan. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#Liga Champions #italia #Atalanta #Premier Leadue #Juventus #jerman #bundesliga