RADARTUBAN – Manajemen Spezia akhirnya mengambil sikap tegas. Setelah mempertimbangkan situasi tim, klub Serie B itu memutuskan memberi satu kesempatan terakhir kepada Roberto Donadoni. Tidak ada ruang abu-abu. Tidak ada toleransi lanjutan.
Kabar tersebut diungkapkan akun X Nicolo Schira. Pesannya jelas: pertandingan berikutnya adalah garis akhir bagi Donadoni.
Laga Penentu: Menang atau Pergi
Pertandingan melawan Cesena pada Sabtu (21/2) ditetapkan sebagai penentu nasib. Jika Spezia kalah, Donadoni akan langsung dipecat. Tanpa negosiasi. Tanpa waktu tambahan.
Formulasi keputusannya keras, bahkan kejam. Namun itulah realitas sepak bola Italia saat tekanan hasil mengalahkan kesabaran proyek.
Tekanan Maksimal, Kesalahan Dilarang
Dalam laporan tersebut ditegaskan situasi Donadoni dengan kalimat yang tak membutuhkan tafsir tambahan: "Dilarang untuk berbuat salah."
Kalimat singkat, namun bobotnya berat. Bagi pelatih sekelas Donadoni—yang pernah merasakan panasnya Serie A dan ruang ganti besar—ini bukan sekadar soal taktik, melainkan tentang mengendalikan emosi tim yang tengah rapuh.
Spezia di Persimpangan Arah
Keputusan ini juga mencerminkan kegelisahan Spezia. Memberi “satu kesempatan lagi” sering kali bukan tanda kepercayaan, melainkan sinyal bahwa kepercayaan itu hampir habis.
Manajemen memilih stabilitas jangka pendek ketimbang proses panjang—pilihan yang kerap diambil klub saat posisi klasemen atau performa tak lagi bisa ditoleransi.
Donadoni dan Ujian Reputasi
Bagi Donadoni, laga kontra Cesena bukan hanya soal bertahan di kursi pelatih. Ini ujian reputasi mantan pelatih Timnas Italia itu.
Menang akan membuka napas baru dan meredam kritik, setidaknya sementara.
Kalah akan menambah satu catatan pahit dalam perjalanan kariernya—bahwa kesempatan terakhir benar-benar adalah yang terakhir.
Semua Mata ke Satu Pertandingan
Tak perlu menunggu berminggu-minggu untuk tahu akhir cerita. Satu laga akan menjawab semuanya.
Spezia bersiap mempertaruhkan musim. Donadoni mempertaruhkan pekerjaannya.
Di sepak bola, kepercayaan bisa runtuh dalam 90 menit. Dan bagi Spezia serta Donadoni, waktu itu kini tinggal hitungan jam. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni