RADARTUBAN - Inter Milan menghadapi ancaman nyata di panggung UEFA Champions League—bukan hanya soal prestasi, tetapi juga uang.
Musim lalu, Inter yang finish sebagai runner up mengantongi € 136,6 juta dari kompetisi paling elite Eropa tersebut.
Musim ini, jika langkah mereka terhenti dan gagal melaju ke babak berikutnya, pemasukan itu merosot tajam menjadi € 60 juta.
Data tersebut dilaporkan Tuttosport, menegaskan betapa tipisnya garis antara kejayaan dan defisit di sepak bola modern.
Selisih € 76 Juta: Lebih dari Sekadar Statistik
Perbedaan € 76,6 juta bukan angka kosmetik. Itu setara satu paket transfer kelas atas, gaji beberapa pilar inti, atau ruang bernapas dalam negosiasi kontrak.
Di era Financial Fair Play, setiap euro punya konsekuensi. Gagal melaju berarti Inter harus menyetel ulang prioritas—dari belanja pemain hingga perpanjangan kontrak.
Baca Juga: Lionel Messi Kembali Latihan Jelang Laga Inter Miami vs LAFC di MLS 2026
Tekanan Lapangan, Efek Meja Direksi
Tekanan kini berlapis. Di lapangan, Inter dituntut bertahan hidup. Di meja direksi, skenario terburuk harus disiapkan.
Pendapatan Liga Champions bukan hanya bonus; ia fondasi perencanaan. Ketika fondasi retak, seluruh bangunan ikut goyah.
Pasukan Cristian Chivu harus meraih kemenangan pada leg ke-2 play-off 16 besar yang digelar Rabu (25/2) mendatang di San Siro. Pada leg ke-1, Nerazzurri secara mengejutkan ditaklukkan Bodø/Glimt dengan skor 3-1.
Sepak Bola, Uang, dan Momentum
Liga Champions selalu menjanjikan dua hal: glori dan likuiditas. Musim lalu, Inter menikmati keduanya.
Musim ini, bayang-bayang kegagalan membawa konsekuensi berantai.
Momentum yang hilang bisa berarti strategi yang berubah—lebih hemat, lebih selektif, dan lebih berhitung.
Pada akhirnya, satu hasil bisa mengubah banyak hal. Bagi Inter, ini bukan sekadar lolos atau tersingkir. Ini soal menjaga denyut finansial agar proyek olahraga tetap berjalan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni