RADARTUBAN – Di sepak bola modern, jumlah pemain asing tak lagi menjamin daya saing. Persebaya Surabaya sudah membuktikannya musim ini.
Sempat dijuluki Tim Balkan Mini karena dijejali lima pemain dari kawasan Eropa Timur, Green Force justru berjalan di tempat.
Sampai akhirnya satu keputusan berani diambil: memangkas, bukan menambah.
Keputusan itu datang dari Bernardo Tavares. Tanpa banyak gimik, pelatih asal Portugal tersebut mematahkan anggapan lama bahwa kekuatan fisik saja cukup untuk mengangkat performa tim.
Yang ia cari bukan sekadar paspor, melainkan kecocokan karakter dan disiplin peran.
Dari “Tim Balkan Mini” ke Tim yang Lebih Seimbang
Pada awal musim Super League, Persebaya tampil dengan wajah Balkan yang kental. Risto Mitrevski, Milos Raickovic, dan Mihailo Perovic direkrut pada era Eduardo Perez.
Mereka menyusul Dime Dimov dan Dejan Tumbas—dua pemain Balkan peninggalan Paul Munster.
Di atas kertas, kombinasi ini terlihat menjanjikan. Fisik kuat, mental keras, dan reputasi daya juang tinggi melekat pada pemain-pemain Balkan.
Namun sepak bola tak berhenti di atas kertas. Lima pemain itu rutin dimainkan, tapi posisi Persebaya tetap tertahan di papan tengah.
Masalahnya bukan minim usaha, melainkan ketidaksinkronan sistem dan peran. Duet bek tengah Risto–Dimov tak cukup solid, lini tengah kehilangan tempo meski diisi Raickovic dan Tumbas, sementara Perovic lama terjebak dalam paceklik gol.
Evaluasi Tanpa Basa-Basi
Pergantian pelatih menjadi titik balik. Eduardo Perez angkat kaki Oktober 2025. Tavares datang Januari dengan satu agenda jelas: menyederhanakan tim agar bekerja lebih efektif.
Bursa transfer paruh musim menjadi momen eksekusi. Dari lima pemain Balkan, hanya tiga yang dipertahankan.
Dejan Tumbas dan Dime Dimov dilepas. Tak ada drama, tak ada pembelaan emosional. Ini murni keputusan teknis.
Tiga yang Bertahan, Justru Jadi Pilar
Langkah itu awalnya dipertanyakan. Namun data di lapangan menjawab semuanya.
Risto Mitrevski kini tampil kokoh berduet dengan Leo Lelis.
Lini belakang Persebaya berubah dari rapuh menjadi disiplin. Dalam lima laga era Tavares, Green Force hanya kebobolan lima gol—angka yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Di tengah, Milos Raickovic menemukan ritme bersama Toni Firmansyah dan Francisco Rivera.
Bukan gelandang yang paling flamboyan, tetapi efektif menjaga keseimbangan.
Sementara Mihailo Perovic, yang sempat dicap tumpul, mulai menemukan kembali naluri golnya.
Dua gol dari lima laga cukup untuk menempatkannya di jajaran top skor klub dengan total empat gol.
Bukan Taktik Ajaib, Tapi Penempatan yang Tepat
Tavares tak pernah mengklaim dirinya penyihir taktik. Ia justru menegaskan pendekatan sederhana—dan di situlah letak kekuatannya.
“Saya tidak membuat sesuatu yang spesial. Saya hanya memasang para pemain sesuai dengan potensi maksimum mereka, dan mereka mampu membuat keajaiban,” ujar Tavares dilansir dari JawaPos.com.
Pendekatan itu menuntut satu hal mutlak: attitude. Bagi Tavares, kerja keras tanpa sikap yang benar hanya akan berujung sia-sia.
“Mereka menunjukkan attitude yang baik dan semangat yang tinggi saat pertandingan,” lanjut mantan arsitek PSM Makassar itu.
Disiplin yang Terlihat, Bukan Sekadar Diucapkan
Perubahan mental tercermin jelas di statistik disiplin. Risto, seorang bek tengah, melewati lima laga tanpa satu pun kartu kuning.
Perovic, setelah sempat absen karena akumulasi kartu pada debut Tavares, tampil bersih dari pelanggaran keras.
Etos kerja Perovic bahkan terlihat nyata saat ia tetap mencetak gol ke gawang Bali United meski bermain dengan kepala diperban. Sebuah simbol komitmen, bukan sekadar keberanian.
Hanya Raickovic yang menambah kartu—itu pun satu kuning, saat melawan Dewa United. Angka yang masih dalam batas wajar.
Fondasi Kebangkitan Persebaya
Tavares percaya, performa hanyalah efek lanjutan dari sikap.
“Ketika kita melihat para pemain mencoba melakukan yang terbaik dan menunjukkan attitude yang baik, kemungkinan kita bisa berhasil adalah besar,” tegasnya.
Persebaya mungkin tak lagi menakutkan karena jumlah pemain Balkan. Tapi kini mereka jauh lebih berbahaya karena setiap pemain tahu perannya, bekerja dalam sistem, dan menjaga sikap.
Dan di situlah manuver Tavares terbukti jitu: mengurangi untuk menguatkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni