Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Juventus Lolos Batas Biaya Skuad UEFA, Tapi Ancaman Sanksi Finansial Masih Membayangi Musim Depan

Tulus Widodo • Selasa, 24 Februari 2026 | 07:35 WIB

Kepatuhan Juventus pada aturan biaya skuad jadi kabar baik, namun ancaman sanksi UEFA masih terbuka.
Kepatuhan Juventus pada aturan biaya skuad jadi kabar baik, namun ancaman sanksi UEFA masih terbuka.

RADARTUBAN – Di tengah upaya menata ulang keuangan pasca badai sanksi, raksasa Serie A, Juventus kembali berada di bawah sorotan UEFA.

Kabar baiknya, manajemen Bianconeri memastikan klub telah mematuhi batas Squad Cost Ratio sebesar 80 persen pada 2024—sebuah parameter krusial dalam sistem baru keberlanjutan finansial sepak bola Eropa.

Tak berhenti di situ, Juventus juga optimistis bisa kembali memenuhi ketentuan pada 2025, ketika ambang batas makin diperketat menjadi 70 persen.

Sebuah sinyal bahwa klub mulai mampu menyeimbangkan antara belanja pemain dan pendapatan riil.

Namun, kepatuhan di satu aspek tak serta-merta menghapus awan gelap di aspek lain.

Baca Juga: Tujuh Hari Penentuan Serie A: Napoli dan Roma Bisa Menjauhkan Juventus dari Liga Champions

Rasio Biaya Skuad: Juventus Lulus Ujian Awal

Dalam laporan yang dikutip dari Calcio Finanza, Juventus dinyatakan patuh terhadap aturan rasio biaya skuad yang ditetapkan UEFA dan FIGC.

Parameter ini mengukur perbandingan antara total biaya skuad—termasuk gaji pemain dan staf teknis—dengan pendapatan klub.

Aturan tersebut menjadi tulang punggung sistem financial sustainability yang kini menggantikan Financial Fair Play versi lama.

Bagi Juventus, kelulusan ini bukan sekadar angka. Ini bukti bahwa strategi efisiensi, pemangkasan gaji, serta fokus pada pemain muda mulai menunjukkan hasil nyata di neraca keuangan.

Masalah Sesungguhnya: Football Earnings Rule

Meski lolos di rasio biaya, persoalan Juventus justru lebih rumit di Football Earnings Rule.

Pada 18 September 2025, UEFA resmi membuka prosedur investigasi atas potensi pelampauan batas kerugian finansial dalam periode tiga tahun: musim 2022/23 hingga 2024/25.

Inilah titik rawan Juventus. Kerugian akumulatif dalam periode tersebut masih menjadi tanda tanya besar, terutama setelah klub sempat terlempar dari kompetisi Eropa dan kehilangan pemasukan signifikan dari Liga Champions.

UEFA tidak hanya melihat angka mentah. Penilaian juga mencakup proyeksi masa depan klub—mulai dari stabilitas manajemen, struktur pendapatan, hingga kelayakan model bisnis yang sedang dibangun.

Ancaman Sanksi: Denda Hingga Pembatasan Skuad

Putusan resmi UEFA dijadwalkan keluar pada akhir musim ini. Sejauh ini, sumber yang sama menyebutkan bahwa Juventus berpotensi menerima sanksi berskala moderat.

Bentuknya bisa berupa:
- Denda finansial,
- Pembatasan jumlah pemain dalam daftar skuad kompetisi Eropa,
- Atau kombinasi keduanya.

Meski tidak dikategorikan sebagai hukuman berat, sanksi semacam ini tetap bisa berdampak langsung pada daya saing Juventus di level kontinental, terutama dalam menyusun skuad kompetitif dengan ruang gerak terbatas.

Jalan Panjang Menuju Stabilitas

Bagi Juventus, ini bukan sekadar soal lolos atau tidak dari sanksi UEFA. Ini soal kredibilitas dan arah klub ke depan.

Kepatuhan terhadap rasio biaya skuad menunjukkan kemajuan, tetapi persoalan kerugian historis masih menjadi warisan yang harus dituntaskan.

Musim ini, Juventus bukan hanya bertarung di lapangan. Mereka juga sedang memainkan laga penting di balik meja—melawan angka, regulasi, dan masa lalu mereka sendiri.

Dan hasil akhirnya, seperti biasa, baru akan ditentukan di garis finis. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#sanksi #Liga Champions #Juventus #serie A #biaya skuad #UEFA #finansial