RADARTUBAN – Posisi Iran di Piala Dunia 2026 menjadi sorotan setelah eskalasi konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel memunculkan spekulasi soal kemungkinan pergantian peserta turnamen.
Situasi tersebut berkembang cepat menyusul serangan militer yang diklaim dilakukan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah Iran pada akhir pekan lalu.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa operasi itu bertujuan melindungi warga negaranya.
Ia mengatakan, “untuk melindungi rakyat Amerika dengan menghilangkan ancaman yang akan segera terjadi dari rezim Iran” setelah perundingan mengenai program nuklir tidak mencapai kesepakatan.
Di sisi lain, laporan menyebut pemimpin tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara yang terjadi di Teheran.
Iran kemudian melancarkan serangan balasan ke sejumlah pangkalan militer di kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan besar terkait partisipasi Iran di ajang sepak bola paling bergengsi itu.
Regulasi FIFA Jika Iran Mundur
Dalam konteks olahraga, Iran dijadwalkan tampil di putaran final yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Iran tergabung di Grup G bersama Belgia, Mesir, dan Selandia Baru.
Namun dinamika politik membuat skenario pengganti Iran di Piala Dunia mulai dibahas.
FIFA melalui sekretaris jenderalnya, Mattias Grafstrom, menegaskan bahwa pihaknya masih memantau perkembangan.
Grafstrom mengatakan, “Kami mengadakan pertemuan hari ini dan masih terlalu dini untuk memberikan komentar secara rinci, namun kami akan memantau perkembangan terkait semua isu di seluruh dunia.
Kami telah melaksanakan undian putaran final di Washington dengan partisipasi semua tim, dan fokus kami adalah memastikan Piala Dunia yang aman dengan seluruh tim ambil bagian.
Kami akan terus berkomunikasi, seperti biasa, dengan tiga pemerintah tuan rumah. Semua orang akan aman.”
Pernyataan itu menunjukkan FIFA belum mengambil keputusan final terkait Iran di Piala Dunia 2026.
Opsi Uni Emirat Arab dan Irak
Berdasarkan regulasi resmi, FIFA memiliki mekanisme jika ada peserta yang mundur.
Aturan itu memungkinkan penunjukan tim alternatif dari konfederasi yang sama.
Dalam skenario tersebut, Uni Emirat Arab menjadi kandidat terdepan.
UEA merupakan tim non-lolos dengan peringkat tertinggi di bawah Iran dalam grup kualifikasi Asia.
Selain itu, mereka sempat kalah dalam play-off konfederasi dari Irak.
Nama Irak juga mencuat sebagai opsi lain dalam wacana pengganti Iran di Piala Dunia.
Irak saat ini berada di jalur play-off antar-konfederasi.
Jika Irak diprioritaskan, maka slot play-off mereka berpotensi diberikan kepada UEA.
Skema ini dinilai realistis apabila waktu masih mencukupi sebelum turnamen dimulai.
Dampak ke Grup G Piala Dunia 2026
Apabila tidak ada cukup waktu untuk menentukan pengganti Iran di Piala Dunia, FIFA bisa menyesuaikan format Grup G.
Opsi yang mungkin diambil adalah menjadikan grup tersebut hanya berisi tiga tim.
Langkah itu tentu berdampak pada jadwal dan sistem kompetisi di Piala Dunia 2026.
Hingga kini, FIFA belum mengumumkan keputusan resmi mengenai Iran di Piala Dunia 2026.
Otoritas sepak bola dunia itu menegaskan fokus utama mereka adalah keamanan dan kelancaran turnamen.
Perkembangan situasi politik masih terus dipantau sebelum keputusan akhir diambil.
Publik sepak bola internasional kini menunggu sikap tegas FIFA terkait Iran di Piala Dunia 2026 dan kemungkinan hadirnya pengganti Iran di Piala Dunia jika situasi tidak memungkinkan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni