RADARTUBAN- Skandal Sepak Bola China kembali menjadi sorotan setelah lebih dari setengah klub memulai musim kompetisi dengan kondisi minus poin.
Situasi ini terjadi pada musim 2026 Chinese Super League, yang resmi bergulir dengan sejumlah sanksi berat kepada klub dan individu di dunia sepak bola China.
Sebanyak sembilan klub yang berlaga di Chinese Super League harus memulai kompetisi dengan pengurangan poin akibat keterlibatan dalam kasus pengaturan skor dan praktik korupsi.
Sanksi tersebut dijatuhkan setelah penyelidikan besar yang dilakukan oleh Chinese Football Association terhadap dugaan pengaturan skor, perjudian, dan praktik suap di kompetisi sepak bola domestik.
Investigasi itu menjadi bagian penting dalam penanganan Skandal Sepak Bola China yang mencoreng reputasi liga sepak bola terbesar di negara tersebut.
Sejumlah Klub Terkena Pengurangan Poin
Dampak Skandal Sepak Bola China membuat beberapa klub papan atas harus memulai musim dengan posisi minus poin di klasemen Chinese Super League.
Dua klub besar, yakni Shanghai Shenhua dan Tianjin Jinmen Tiger, menjadi tim dengan hukuman paling berat karena harus memulai musim dengan minus 10 poin.
Klub Qingdao Hainiu juga tidak luput dari sanksi karena mendapatkan pengurangan tujuh poin sebelum menjalani pertandingan pertama musim ini.
Sementara itu, Shandong Taishan dan Henan memulai kompetisi dengan minus enam poin.
Empat klub lain seperti Zhejiang, Wuhan Three Towns, Shanghai Port, dan Beijing Guoan juga harus menerima pengurangan lima poin.
Pengurangan poin tersebut menjadi bagian dari upaya federasi untuk membersihkan kompetisi dari praktik pengaturan skor yang merusak integritas pertandingan.
Federasi Sepak Bola China Tegaskan Komitmen Bersih-bersih
Dalam pernyataannya, Chinese Football Association menegaskan bahwa sanksi dijatuhkan untuk menjaga integritas liga.
Federasi menyebut hukuman diberikan berdasarkan tingkat keterlibatan klub dalam praktik ilegal yang terkait dengan pengaturan skor dan transaksi tidak sah.
Pihak federasi juga menilai dampak sosial dari kasus tersebut cukup besar sehingga diperlukan tindakan tegas.
Langkah tegas ini merupakan bagian dari reformasi besar menyusul mencuatnya Skandal Sepak Bola China yang melibatkan banyak pihak di industri sepak bola nasional.
Kasus Li Tie dan Pengakuan Mengejutkan
Selain klub, sejumlah tokoh sepak bola juga menerima hukuman berat akibat keterlibatan dalam Skandal Sepak Bola China.
Salah satu nama paling mencolok adalah mantan pelatih tim nasional China, Li Tie, yang juga pernah bermain untuk Everton di Liga Inggris.
Li Tie termasuk di antara 73 orang yang dijatuhi larangan seumur hidup untuk terlibat dalam dunia sepak bola.
Dalam proses hukum yang berjalan, Li Tie mengakui terlibat dalam praktik pengaturan skor serta menerima dan memberikan suap selama karier kepelatihannya.
Dia juga mengaku menerima suap lebih dari 16 juta dolar AS antara tahun 2015 hingga 2021.
Dalam pernyataannya, Li Tie menyampaikan penyesalan atas perbuatannya.
“Saya sangat menyesal. Seharusnya saya tetap fokus bekerja dengan benar dan mengikuti jalan yang tepat. Pada saat itu, ada beberapa hal yang dianggap sebagai praktik umum dalam sepak bola," tutur dia.
Dia juga mengakui bahwa ambisi untuk meraih hasil instan membuatnya mengambil jalan yang salah.
“Dengan meraih ‘kesuksesan’ melalui cara yang tidak benar, saya justru menjadi semakin tidak sabar dan ingin mendapatkan hasil instan," kata dia.
“Untuk mencapai performa yang baik, saya akhirnya mempengaruhi wasit, menyuap pemain dan pelatih lawan, bahkan terkadang melalui klub yang berhubungan dengan klub lain," lanjut dia.
Li Tie juga mengakui praktik tersebut akhirnya menjadi kebiasaan.
“Perilaku seperti ini akhirnya menjadi kebiasaan, dan pada akhirnya bahkan muncul ketergantungan terhadap praktik-praktik tersebut.”
Upaya Memulihkan Kepercayaan Publik
Kasus Skandal Sepak Bola China menjadi pukulan besar bagi reputasi Chinese Super League yang sebelumnya sempat berkembang pesat.
Federasi berharap hukuman tegas terhadap klub dan individu dapat menjadi langkah awal untuk memulihkan kepercayaan publik.
Reformasi tata kelola sepak bola juga dinilai penting agar praktik pengaturan skor tidak kembali terjadi di masa mendatang.
Komitmen untuk membersihkan liga diharapkan mampu mengembalikan integritas kompetisi Chinese Super League di mata penggemar sepak bola internasional. (*)
Editor : Yudha Satria Aditama