RADARTUBAN - Performa Juventus musim ini resmi menyentuh titik paling mengkhawatirkan.
Setelah 30 giornata Serie A, Bianconeri mencatatkan statistik yang tak pernah terlihat dalam satu setengah dekade terakhir.
Data yang dibagikan jurnalis Matteo Di Gangi di platform X mengungkap fakta telak. Juventus musim 2025/2026 hanya mengoleksi 54 poin dari 30 pertandingan—angka yang menjadi yang terburuk dalam 15 tahun terakhir.
"Untuk Bianconeri, ini adalah 30 pertandingan pertama terburuk dalam 15 tahun terakhir." tulis Matteo.
Kalimat sederhana, tapi dampaknya sangat dalam. Ini bukan sekadar statistik—ini alarm keras.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Juventus Dekati Sandro Tonali, Arsenal Siap Ganggu Transfer Musim Panas
Grafik Turun yang Tak Terbantahkan
Jika ditarik ke belakang, grafik performa Juventus terlihat jelas menurun. Musim lalu (2024/2025), mereka masih mampu mengumpulkan 55 poin di fase yang sama.
Sedikit lebih baik, tapi tetap jauh dari standar klub sebesar Juventus.
Bandingkan dengan era kejayaan:
2018/2019: 81 poin
2019/2020: 75 poin
Saat itu, Juventus masih menjadi penguasa absolut Serie A. Di bawah pelatih seperti Massimiliano Allegri dan Maurizio Sarri, mereka nyaris tak tersentuh.
Kini? Realitanya jauh berbeda.
Pergantian Pelatih Tak Mengubah Arah
Musim ini Juventus ditangani dua nama: Igor Tudor dan Luciano Spalletti. Namun pergantian tersebut belum mampu memberi dampak signifikan.
Alih-alih bangkit, tim justru terlihat kehilangan identitas. Pola permainan tak konsisten, lini tengah rapuh, dan efektivitas di depan gawang jauh dari kata tajam.
Ini bukan sekadar soal taktik. Ini soal mentalitas yang goyah.
Dari Raja Serie A ke Tim Penuh Tanda Tanya
Juventus dulu adalah simbol stabilitas dan dominasi. Sembilan gelar Serie A beruntun menjadi bukti kekuatan mereka. Namun kini, aura itu memudar.
Pertandingan seperti Juventus vs Sassuolo menjadi cerminan: tim besar yang tak lagi menakutkan. Lawan tak segan menekan, bahkan menguasai permainan.
Penurunan ini terasa sistemik—dari manajemen, strategi transfer, hingga pembangunan skuad.
Apa Selanjutnya?
Situasi ini menempatkan Juventus di persimpangan krusial. Bertahan dengan proyek yang ada, atau melakukan revolusi besar-besaran?
Yang jelas, angka 54 poin dari 30 laga bukan sekadar statistik buruk. Ini adalah sinyal bahwa sesuatu yang fundamental sedang tidak berjalan.
Dan jika tidak segera diperbaiki, Juventus bukan hanya kehilangan gelar—tetapi juga identitasnya sebagai raksasa Italia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni