Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Derby versus Persebaya Jadi Ujian Nyata, Gaungkan Sepakbola Fanatisme dan Kedewasaan Melalui Arema One Blood

Bihan Mokodompit • Jumat, 10 April 2026 | 17:36 WIB
Ilustrasi para pemain Arema fc. (Instagram/aremafc)
Ilustrasi para pemain Arema fc. (Instagram/aremafc)

RADARTUBAN - Pertandingan Derby versus Persebaya Jadi Ujian Nyata tidak hanya menjadi laga panas di atas lapangan, tetapi juga menjadi tolok ukur kedewasaan suporter dalam membangun wajah baru sepak bola Indonesia.

Momentum ini diperkuat melalui konsolidasi bertajuk Arema One Blood yang digelar di Pendopo Panji, Kepanjen, Kabupaten Malang.

Konsolidasi Suporter Jadi Fondasi Perubahan

Pertemuan yang melibatkan panitia pelaksana, aparat keamanan, dan ribuan Aremania ini menjadi langkah strategis dalam menyongsong laga Arema vs Persebaya.

Kehadiran berbagai elemen menunjukkan bahwa pertandingan ini bukan sekadar olahraga, melainkan menyangkut keamanan publik dan citra daerah.

Baca Juga: Prediksi Skor Persita vs Arema di BRI Super League: Tuan Rumah Lebih Stabil, Singo Edan Terancam

General Manajer Arema FC, Yusrinal Fitriandi, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam membangun ekosistem sepak bola yang sehat.

“Sepak bola adalah milik bersama, bukan hanya klub. Sinergi antara pemerintah daerah, klub, dan suporter adalah hal mutlak. Kami ingin sepak bola hadir sebagai pemersatu, bukan pemecah,” ujar Yusrinal.

Ia juga menekankan bahwa Aremania memiliki peran sentral dalam menjaga eksistensi klub sekaligus menentukan arah perubahan budaya suporter.

“Arema bukan sekadar tentang kemenangan, tetapi juga menjaga warisan persaudaraan dan martabat sepak bola Malang Raya,” tambahnya.

Arema vs Persebaya dan Ujian Kedewasaan Suporter

Laga Arema vs Persebaya yang akan digelar di Stadion Kanjuruhan dipastikan menjadi sorotan nasional.

Pertandingan ini membawa beban moral yang besar bagi seluruh pihak, terutama Aremania sebagai tuan rumah.

Legenda Arema, Ovan Tobing, secara tegas mengingatkan pentingnya menjaga sikap dewasa dalam mendukung tim.

“Kita harus menunjukkan bahwa kita mampu berubah. Yang terpenting bukan hanya pertandingan di dalam stadion, tetapi bagaimana kita menjamin keamanan dan kenyamanan tim tamu sejak datang hingga kembali,” ujar Ovan.

Ia juga menegaskan agar tragedi masa lalu tidak kembali terulang dalam laga besar seperti Arema vs Persebaya.

“Cukup satu kejadian, jangan sampai terulang lagi. Mari kita buktikan bahwa kita mampu menjadi tuan rumah yang baik dan bertanggung jawab,” tegasnya.

Komitmen Nyata: Sepak Bola Tanpa Kekerasan

Deklarasi enam poin kesepakatan menjadi inti dari gerakan Arema One Blood.

Komitmen ini mencakup larangan kekerasan, penghormatan terhadap semua pihak, hingga sanksi tegas bagi pelanggar.

Langkah ini menjadi penting karena selama ini Aremania sering menjadi sorotan dalam dinamika rivalitas Arema vs Persebaya.

Koordinasi antara suporter, panitia, dan aparat keamanan diharapkan mampu menciptakan situasi kondusif di Stadion Kanjuruhan.

Pendekatan ini juga menekankan bahwa keamanan pertandingan adalah tanggung jawab bersama.

Dampak Luas bagi Masyarakat dan Citra Daerah

Pemerintah Kabupaten Malang menilai sepak bola memiliki dampak sosial dan ekonomi yang luas.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Malang, Firmando Hasiholan Matondang, menyebut sepak bola sebagai ruang pembelajaran masyarakat.

“Sepak bola bukan hanya tontonan, tetapi juga ruang pembelajaran sosial dan ekonomi. Di dalamnya terdapat nilai-nilai sportivitas, solidaritas, serta pembentukan karakter generasi muda,” ujarnya.

Menurutnya, keberhasilan penyelenggaraan laga Arema vs Persebaya akan berdampak langsung pada citra Malang Raya di mata nasional.

Ia juga menekankan pentingnya menjadikan Stadion Kanjuruhan sebagai ruang aman dan nyaman bagi semua pihak.

Harapan Publik di Balik Derby Panas

Publik kini menaruh harapan besar pada pelaksanaan Derby versus Persebaya Jadi Ujian Nyata sebagai simbol perubahan.

Aremania diharapkan mampu membuktikan bahwa fanatisme bisa berjalan beriringan dengan kedewasaan.

Pertandingan ini bukan hanya soal skor akhir, tetapi juga tentang bagaimana sepak bola bisa menjadi alat pemersatu.

Jika berhasil, Arema One Blood dapat menjadi model baru bagi transformasi budaya suporter di Indonesia.

Sebaliknya, kegagalan akan kembali memperkuat stigma negatif yang selama ini melekat.

Karena itu, Derby versus Persebaya Jadi Ujian Nyata menjadi momentum penting yang menyangkut kepentingan publik luas, bukan sekadar rivalitas olahraga. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#arema one blood #arema vs persebaya #Derby #stadion kanjuruhan #PERSEBAYA