RADARTUBAN - Kepergian Inter Miami CF dari era Javier Mascherano menjadi sorotan besar, terutama karena Inter Miami era Mascherano berakhir secara tiba-tiba di tengah kompetisi.
Mascherano memilih mundur dengan alasan pribadi kurang dari lima bulan setelah membawa tim menjuarai MLS Cup.
Keputusan tersebut mengejutkan banyak pihak karena ia juga memiliki hubungan dekat dengan Lionel Messi sebagai kapten tim.
Performa Tidak Konsisten Jadi Sorotan
Inter Miami era Mascherano berakhir saat performa tim belum menunjukkan kestabilan.
Tim hanya mencatatkan hasil 3 menang, 1 imbang, dan 3 kalah di MLS.
Selain itu, mereka juga tersingkir dari Concacaf Champions Cup di babak 16 besar.
Hasil tersebut membuat posisi klub tertahan di papan tengah klasemen Supporters’ Shield.
Masalah Komposisi Pemain
Salah satu faktor penting dalam Inter Miami era Mascherano berakhir adalah ketidaksesuaian komposisi pemain dengan strategi pelatih.
Mascherano tidak memiliki kendali penuh dalam menentukan rekrutan pemain.
Kondisi ini membuat beberapa pemain tidak sesuai dengan kebutuhan taktiknya.
Kedatangan Germán Berterame dengan nilai transfer tinggi belum memberikan dampak maksimal.
Di sisi lain, Luis Suárez yang dipertahankan justru mengalami penurunan performa.
Situasi ini membuat lini depan tidak berjalan sesuai rencana.
Perubahan Peran Lionel Messi
Inter Miami era Mascherano berakhir juga dipengaruhi perubahan posisi Messi di lapangan.
Messi yang biasa bermain sebagai penyerang tengah harus bergeser menjadi gelandang serang.
Perubahan ini membuat permainan tim menjadi kurang efektif.
Serangan menjadi lebih sempit dan tidak berkembang.
Hal ini berdampak pada minimnya kontribusi lini depan secara keseluruhan.
Minimnya Pengaruh Pelatih dalam Transfer
Mascherano menjalani pengalaman pertama sebagai pelatih klub profesional.
Ia lebih berperan sebagai pelatih di lapangan dibanding pengambil keputusan dalam transfer pemain.
Hal ini membuat visinya tidak sepenuhnya terwujud dalam skuad.
Pelatih interim Guillermo Hoyos bahkan menyebut, “Saya menganggap Inter Miami sebagai salah satu dari 10 klub terbaik di dunia.”
Pernyataan tersebut jika diterjemahkan dari bahasa Inggris berbunyi, “Saya menganggap Inter Miami sebagai salah satu dari 10 klub terbaik di dunia.”
Namun, kondisi di lapangan menunjukkan hal berbeda.
Perbandingan dengan Klub Lain
Inter Miami era Mascherano berakhir di tengah persaingan yang semakin ketat.
Los Angeles FC tampil lebih stabil dengan strategi yang konsisten.
Nashville SC juga mampu memperkuat tim dengan pemain yang tepat.
Sebaliknya, Inter Miami justru kesulitan menemukan keseimbangan tim.
Beberapa pemain baru belum mampu beradaptasi dengan cepat.
Tekanan Besar di Balik Layar
Inter Miami era Mascherano berakhir juga tidak lepas dari tekanan besar di dalam klub.
Sorotan terhadap Messi membuat ekspektasi tim semakin tinggi.
Situasi ini diduga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan pelatih.
Sebelumnya, Gerardo Martino juga mundur setelah meraih prestasi bersama tim.
Kedua pelatih sama-sama meninggalkan klub dengan alasan pribadi.
Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kondisi internal klub.
Inter Miami era Mascherano berakhir bukan hanya karena hasil pertandingan.
Faktor komposisi pemain, minimnya peran pelatih dalam transfer, hingga tekanan internal menjadi penyebab utama.
Ke depan, manajemen klub dituntut untuk memperbaiki struktur tim agar lebih kompetitif.
Langkah tersebut penting agar Inter Miami bisa kembali bersaing di level tertinggi MLS. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni