RADARTUBAN – Apa yang dilakukan Cesc Fabregas bersama Como 1907 musim ini bukan sekadar kejutan—ini anomali yang sulit dijelaskan dengan logika awal musim. Di tahun kedua mereka di Serie A, Como justru menjelma menjadi salah satu kekuatan tak terduga.
Tim yang semula diprediksi bertarung di papan bawah kini bertengger di posisi lima klasemen dan hampir pasti finis di enam besar.
Tak berhenti di situ, klub milik Grup Djarum itu juga melangkah hingga semifinal Coppa Italia—sebuah capaian yang bahkan tak masuk hitungan mayoritas pengamat di awal musim.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Wonderkid Milan Christian Comotto Jadi Rebutan Tiga Klub
Pengamat sepak bola Guido Olivares mencoba meluruskan narasi yang berkembang. Ia menilai kritik terhadap Fabregas sudah melenceng jauh dari realitas.
“Fabregas di tahun kedua Serie A berada di posisi kelima, hampir pasti finis di enam besar, semuanya dengan memainkan sepak bola yang hebat.” tulis Olivares.
“Tentu dia punya kekurangan yang harus diperbaiki, tetapi mengingat ini baru musim ketiganya sebagai pelatih, levelnya sudah sangat tinggi.” lanjutnya.
Dari Diragukan Jadi Ancaman Nyata
Awal musim, Como nyaris tak diperhitungkan. Status tim promosi dan minim pengalaman membuat mereka dianggap sekadar pelengkap.
Namun, di tangan Cesc Fabregas, identitas tim dibangun dengan cepat—berani memainkan sepak bola menyerang, disiplin dalam transisi, dan efektif dalam memanfaatkan peluang.
Tak heran jika banyak pihak kini mulai mengubah pandangan.
Kritik yang Kehilangan Arah
Namun di tengah pujian, kritik tetap muncul. Dan di sinilah Olivares bersikap tegas: “Di awal musim, siapa yang akan mengatakan Como di posisi kelima dan semifinal Coppa Italia? Sangat sedikit.”
Ia bahkan menutup dengan pernyataan keras: “Mengejek Fabregas atas pekerjaannya di lapangan adalah sesuatu yang benar-benar gila.”
Fabregas dan Standar Baru
Apa yang dilakukan Fabregas bukan hanya soal hasil, tetapi juga cara. Mantan bintang Real Madrid dan Arsenal itu menunjukkan bahwa pelatih muda dengan ide jelas bisa langsung memberi dampak nyata—even di liga sekompetitif Serie A.
Tentu masih ada kekurangan, seperti konsistensi dan kedalaman skuad. Namun untuk pelatih di musim ketiga, capaian ini jauh melampaui ekspektasi.
Di titik ini, perdebatan seharusnya bukan lagi soal layak atau tidaknya Fabregas dipuji.
Pertanyaan yang lebih relevan: seberapa jauh ia bisa membawa Como melampaui batas yang bahkan belum pernah mereka bayangkan? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni