RADARTUBAN - Dinamika bursa transfer Serie A Italia kembali memanas. Juventus dikabarkan mulai melirik peluang merekrut Ardon Jashari dari AC Milan.
Situasi ini mencuat bukan tanpa alasan—minimnya menit bermain sang gelandang justru membuka celah bagi rival domestik untuk bergerak.
Laporan dari La Gazzetta dello Sport mengungkap bahwa kondisi tersebut membuat Juventus mulai “memasang antena” terhadap perkembangan Jashari di Milan.
Menit Bermain Jadi Titik Kritis
Dalam laporan itu disebutkan bahwa “menit bermain yang berada di bawah ekspektasi di Milan membuat Juventus mulai waspada.”
Ini menjadi indikasi bahwa Jashari belum sepenuhnya mendapatkan peran ideal di skuad Rossoneri.
Padahal, eks pemain Club Brugge itu datang dengan ekspektasi tinggi. Namun realita di lapangan tak selalu berjalan sesuai rencana.
Faktor Modric Bisa Jadi Penentu
Skenario semakin kompleks dengan kemungkinan bertahannya Luka Modric di Milan untuk satu musim tambahan.
“Jika Modric bertahan satu tahun lagi di Milan dan Jashari memutuskan untuk melihat opsi lain meskipun Rossoneri kembali ke Liga Champions, maka ide ini bisa diperdalam.” tulis Gazzetta.
Artinya, masa depan Jashari tidak hanya bergantung pada performanya, tetapi juga pada komposisi skuad dan persaingan di lini tengah.
Alternatif Lain: Hojbjerg Masuk Daftar
Juventus tidak hanya bertumpu pada satu nama. Selain Jashari, gelandang berpengalaman Pierre-Emile Højbjerg juga masuk dalam daftar incaran.
Langkah ini menunjukkan pendekatan realistis Juventus: menyiapkan opsi muda potensial sekaligus alternatif berpengalaman untuk menjaga keseimbangan tim.
Peluang atau Sekadar Wacana?
Perlu digarisbawahi, skenario ini masih bersifat jangka menengah. Disebutkan bahwa ini adalah skenario masa depan, untuk akhir musim panas. Artinya, banyak variabel yang bisa mengubah arah cerita.
Namun satu hal jelas—Juventus jeli membaca situasi. Mereka tidak menunggu pemain benar-benar tersedia di pasar, tetapi mulai bergerak sejak tanda-tanda awal muncul.
Bagi Jashari, ini bisa menjadi titik refleksi: bertahan dan berjuang di Milan, atau membuka lembaran baru di klub rival dengan janji peran lebih besar.
Di tengah ketidakpastian itu, satu keputusan bisa mengubah arah kariernya secara drastis. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni