Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Sriwijaya FC Terdegradasi, Persikabo dan Persewar Alami Nasib Tragis Dua Musim Beruntun

Tulus Widodo • Sabtu, 9 Mei 2026 | 16:41 WIB
Sriwijaya FC di Pegadaian Championship. (instagram.com/sriwijayafc.id)
Sriwijaya FC di Pegadaian Championship. (instagram.com/sriwijayafc.id)

RADARTUBAN - Persaingan kompetisi sepak bola Indonesia musim 2025/2026 resmi memakan korban. Sejumlah tim bersejarah hingga klub penuh ambisi dipastikan terdegradasi usai gagal bertahan dalam tekanan panjang sepanjang musim. 

Yang paling menyita perhatian adalah nasib Sriwijaya FC serta tragedi back-to-back degradasi yang dialami Persikabo 1973 dan Persewar Waropen.

Baca Juga: Pesta Gol Tanpa Ampun: Adhyaksa FC Bantai Sriwijaya FC 15-0, Laskar Wong Kito Ambruk

Lengkap sudah tiga tim yang turun dari Pegadaian Championship menuju Liga Nusantara musim 2026/2027. Ketiganya adalah Sriwijaya FC, Persipal Palu, dan Persekat Tegal.

Sementara itu, dari kasta Liga Nusantara, enam tim dipastikan jatuh ke Liga 4 Indonesia. 

Mereka adalah Persebata, PSDS Deli Serdang, Perserang, Waanal Brothers, Persewar Waropen, dan Persikabo 1973.

Sriwijaya FC Kembali Terpuruk

Nama Sriwijaya FC menjadi yang paling mengejutkan dalam daftar degradasi musim ini. 

Klub yang pernah menjadi kekuatan besar sepak bola nasional itu terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir. 

Setelah lama berjuang untuk kembali ke kasta tertinggi, Laskar Wong Kito justru kini harus turun lagi ke Liga Nusantara.

Situasi ini memperlihatkan bahwa nama besar dan sejarah ternyata tidak cukup menjadi jaminan bertahan di kompetisi yang semakin keras dan kompetitif. 

Inkonsistensi performa, masalah finansial, hingga minimnya kestabilan skuad disebut menjadi faktor utama kemerosotan klub asal Palembang tersebut.

Persikabo dan Persewar Catat Rekor Buruk

Sorotan lain tertuju pada Persikabo 1973 dan Persewar Waropen. Kedua tim sama-sama mengalami back-to-back degradasi, sebuah catatan pahit yang memperlihatkan krisis serius di tubuh klub.

Persikabo yang beberapa musim lalu masih bersaing di level atas kini justru terjun bebas hingga Liga 4. 

Penurunan drastis itu menjadi alarm keras soal manajemen klub dan pembangunan tim yang dinilai gagal total menjaga daya saing.

Nasib serupa dialami Persewar. Klub asal Papua tersebut juga tidak mampu keluar dari tekanan sepanjang musim. 

Padahal, Persewar sempat dikenal sebagai tim dengan karakter kuat dan atmosfer kandang yang sulit ditaklukkan.

Kompetisi Semakin Ketat

Fenomena degradasi musim ini memperlihatkan peta sepak bola Indonesia semakin brutal. Klub-klub dengan sejarah panjang kini tidak lagi otomatis aman. 

Kompetisi menuntut kestabilan finansial, pembinaan pemain muda, kualitas manajemen, hingga konsistensi performa sepanjang musim.

Jika tidak segera berbenah, bukan tidak mungkin lebih banyak klub tradisional bakal mengikuti jejak Sriwijaya FC dan Persikabo pada musim-musim berikutnya. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#liga 4 indonesia #liga nusantara #Pegadaian Championship #persikabo #sriwijaya fc