RADARTUBAN - BRI Super League 2025-2026 sedang menyiapkan perubahan besar yang bisa mengubah wajah sepak bola Indonesia.
Kompetisi kasta tertinggi nasional itu tak lagi hanya bicara soal trofi dan gengsi juara, tetapi juga tentang bagaimana klub mendapatkan pemasukan berdasarkan performa dan daya tarik mereka di layar televisi.
I.League selaku operator kompetisi resmi mulai menerapkan sistem distribusi pendapatan modern yang disebut-sebut mengadopsi pola Premier League Inggris.
Artinya, klub tidak lagi menerima hadiah juara dalam bentuk nominal tetap semata, melainkan melalui kombinasi kontribusi tetap dan variabel sepanjang musim.
Baca Juga: Papan Bawah BRI Super League Memanas, Empat Tim Berebut Hindari Degradasi Musim Inib
Klub Tak Lagi Hanya Mengejar Juara
Direktur Kompetisi I.League, Asep Saputra menjelaskan bahwa sistem baru ini sebenarnya sudah mulai dijalankan dalam beberapa musim terakhir, tetapi kini akan diperkuat dalam format Super League.
“Dalam beberapa musim terakhir, hadiah uang Championship atau Liga 2 memang kami umumkan. Tetapi kalau Super League, sistemnya agak berbeda bahwa setiap bulan kami memberikan fix contribution kepada klub,” ujar Asep Saputra.
Skema tersebut membuat setiap klub tetap memperoleh pemasukan dasar selama kompetisi berjalan.
Namun perbedaan besar muncul pada variable contribution atau kontribusi variabel yang dihitung dari performa akhir musim.
Peringkat dan Popularitas Jadi Penentu Uang Klub
Menurut Asep, besaran pendapatan klub nantinya bergantung pada tiga aspek utama. Salah satunya adalah posisi akhir klasemen.
“Variable contribution ini sifatnya adalah sesuai dengan perhitungan tiga aspek. Tim peringkat satu, dua, tiga, sampai ke-15 itu angkanya berbeda secara menurun. Tiga tim terakhir malah tidak terima sama sekali,” jelasnya.
Menariknya, faktor siaran televisi juga mulai menjadi penentu penting.
“Lalu ada juga perhitungan berdasarkan rating dan share tayangan TV, yang angkanya dilihat di akhir musim. Seberapa besar nilainya, setiap klub berbeda angkanya,” kata Asep Saputra.
Artinya, klub dengan basis suporter besar dan angka penonton tinggi berpotensi memperoleh pemasukan lebih besar dibanding rival lainnya.
Menuju Industri Sepak Bola Modern
Skema ini menjadi sinyal bahwa sepak bola Indonesia perlahan bergerak menuju industri yang lebih profesional dan kompetitif.
Asep bahkan secara terbuka menyebut konsep tersebut mirip dengan sistem distribusi pendapatan di Premier League.
“Jadi, memang bukan prize money yang pasti menyebut angka, tetapi sama seperti yang terjadi di Premier League, sama seperti yang terjadi di liga-liga lain,” tuturnya.
Jika berjalan konsisten, sistem baru ini bisa memicu persaingan yang jauh lebih menarik.
Klub bukan hanya dituntut menang di lapangan, tetapi juga harus mampu membangun daya tarik dan kekuatan brand di luar pertandingan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni