RADARTUBAN - Selama 226 hari, Heart of Midlothian F.C. berdiri gagah di puncak Liga Skotlandia.
Publik mulai percaya musim ini bakal menghadirkan juara baru di tengah dominasi dua raksasa lama. Namun sepak bola selalu punya cara paling kejam untuk mengingatkan: sejarah tidak mudah diubah.
Pada pekan terakhir Premiership Skotlandia, Celtic F.C. datang seperti monster berpengalaman.
Celtic menang 3-1 atas Hearts dan langsung merebut mahkota juara yang hampir sepanjang musim terlihat aman di tangan rivalnya itu.
Baca Juga: Europa League Memanas: Delapan Besar Aman, Bologna hingga Celtic Bertaruh Nyawa di Play-off
Ironisnya, sejak 1985, trofi liga Skotlandia memang nyaris tidak pernah keluar dari lingkaran Celtic F.C. dan Rangers F.C.
Hearts hanya menjadi pengingat bahwa memimpin klasemen terlalu lama belum tentu berarti akan finis sebagai juara.
Arsenal Mulai Dihantui Bayang-Bayang yang Sama
Drama di Skotlandia itu terasa seperti alarm bagi Arsenal. Sebab, situasi serupa kini sedang mengintai Liga Inggris.
Arsenal memang tampil konsisten dan sempat memimpin perburuan gelar dalam waktu panjang.
Namun di belakang mereka, ada mesin juara bernama Manchester yang dalam beberapa musim terakhir nyaris selalu menyalakan mode mengerikan menjelang akhir kompetisi.
Inilah perbedaan terbesar antara tim penantang dan tim yang terbiasa juara. City tahu bagaimana mengelola tekanan di tikungan terakhir musim.
Mereka tidak panik. Mereka tidak terburu-buru. Dan yang paling berbahaya: mereka jarang terpeleset saat lawan mulai gugup.
Kutukan Pemuncak Klasemen?
Kasus Hearts memperlihatkan satu fakta brutal dalam sepak bola modern: memimpin klasemen bukan bagian tersulit.
Tantangan sebenarnya adalah bertahan ketika tekanan datang dari segala arah.
Arsenal kini berada di titik yang sama. Sedikit kehilangan fokus bisa menjadi awal bencana.
Baca Juga: Wilfried Nancy Dapat Dukungan Penuh Manajemen Celtic di Tengah Performa Buruk
Terlebih, Pep Guardiola selalu punya cara membuat Manchester City tampak dingin saat tim lain mulai kehabisan napas.
Liga Skotlandia sudah memberi contoh nyata bagaimana dominasi sejarah bisa menghancurkan mimpi dalam satu malam terakhir. Pertanyaannya sekarang: apakah Liga Inggris sedang menuju drama serupa? (*)
Editor : Yudha Satria Aditama