RADARTUBAN - Persaingan papan bawah BRI Super League 2025/2026 benar-benar mencapai titik paling menegangkan.
Kemenangan PSIM Jogja atas Madura United dengan skor 2-1 membuat perebutan tiket bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia harus ditentukan hingga pekan terakhir.
Situasi itu membuat atmosfer kompetisi mendadak berubah panas. Persis Solo dan Madura United kini sama-sama berdiri di bibir jurang degradasi dengan tekanan luar biasa besar.
Berdasarkan klasemen sementara pekan ke-33 yang dirilis Kampiun ID, Madura United menempati peringkat ke-15 dengan 32 poin, sementara Persis Solo tepat di bawahnya dengan 31 poin.
Baca Juga: Usai Ditahan Imbang Persis Solo di Manahan, Ichsas Baihaqi Minta Persebaya Segera Evaluasi Tim
Artinya, hanya selisih satu angka yang memisahkan dua tim yang kini sama-sama dihantui mimpi buruk turun kasta.
Pekan Terakhir Jadi Penentuan Hidup-Mati
Drama sesungguhnya akan tersaji pada pekan ke-34. Madura United dijadwalkan menghadapi PSM Makassar, sedangkan Persis Solo harus bertandang melawan Persita Tangerang.
Duel tersebut dipastikan bukan sekadar pertandingan biasa. Ini adalah laga hidup-mati yang menentukan masa depan klub, pemain, hingga stabilitas finansial tim musim depan.
Madura United sebenarnya sempat berada di posisi lebih aman. Namun kekalahan dari PSIM Jogja membuat situasi berubah drastis. Laskar Sape Kerrab kini tak lagi memiliki ruang untuk terpeleset.
Di sisi lain, Persis Solo mendapat suntikan moral setelah sebelumnya berhasil meraih kemenangan penting atas Dewa United.
Hasil itu menjaga napas Laskar Sambernyawa tetap hidup hingga pekan pamungkas.
Tekanan Mental Bisa Jadi Penentu
Dalam situasi seperti ini, kualitas teknis bukan satu-satunya faktor penentu. Mental pemain justru akan menjadi pembeda utama.
Madura United menghadapi tekanan besar karena mereka hanya unggul satu poin dari Persis. Satu hasil buruk saja bisa langsung mengubah nasib mereka.
Sementara Persis Solo datang dengan motivasi tinggi karena masih memiliki peluang menyelamatkan musim yang sejak awal berjalan tidak stabil.
Ironisnya, tim sebesar Persis yang memiliki basis suporter fanatik kini justru harus bertarung demi sekadar bertahan di liga.
Pekan terakhir Super League musim ini pun dipastikan berlangsung panas dan emosional.
Tidak hanya soal kemenangan, tetapi juga tentang harga diri, masa depan klub, dan pertaruhan nama besar.
Satu tim akan bernapas lega. Satu lainnya harus menerima kenyataan pahit turun kasta. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni