RADARTUBAN – Di tengah derasnya invasi pemain asing di kompetisi domestik, satu fakta menarik justru muncul dari bawah mistar gawang.
Musim ini, nama Teja Paku Alam dan Nadeo Argawinata menjadi bukti bahwa kiper lokal Indonesia belum habis—bahkan semakin menentukan arah permainan tim.
Statistik BRI Super League 2025/2026 memperlihatkan duel kualitas dua penjaga gawang elite tersebut berlangsung sangat ketat.
Teja, yang menjadi andalan Persib Bandung, mencatatkan 17 nirbobol dari 30 pertandingan dengan hanya 19 kali kebobolan dalam 2.700 menit bermain.
Baca Juga: Vincent Kompany Tegaskan Bayern Punya Kiper Terbaik Jerman di Tengah Rumor Kembalinya Manuel Neuer
Sementara itu, Nadeo bersama Borneo FC Samarinda tampil lebih sibuk di bawah mistar. Kiper asal Kediri itu bermain dalam 33 laga dengan total 2.970 menit, mencatat 12 clean sheet dan kebobolan 30 gol.
Bukan Sekadar Statistik, Tapi Soal Pengaruh
Angka memang bicara. Tapi pengaruh dua kiper ini jauh lebih besar daripada sekadar statistik.
Teja tampil sebagai sosok tenang yang sering menyelamatkan Persib di momen-momen kritis.
Refleks cepat, positioning matang, dan keberanian duel udara membuatnya berkali-kali menjadi penyelamat Maung Bandung.
Di sisi lain, Nadeo menawarkan karakter berbeda. Kapten Borneo FC itu tampil lebih vokal, emosional, dan agresif dalam mengawal pertahanan.
Dalam banyak laga, keberaniannya memotong serangan lawan membuat Borneo tetap kompetitif di papan atas.
Menariknya, data dari Transfermarkt Indonesia juga menunjukkan nilai pasar Nadeo kini mencapai Rp 6,95 miliar, sedangkan Teja berada di angka Rp 4,35 miliar.
Era Baru Kiper Lokal Indonesia
Perbandingan Teja dan Nadeo seolah mematahkan stigma lama bahwa klub Indonesia harus bergantung pada kiper asing demi tampil kompetitif.
Musim ini justru memperlihatkan hal sebaliknya. Kiper lokal bukan cuma pelengkap skuad, tetapi menjadi fondasi penting permainan tim.
Dan mungkin, inilah wajah baru sepak bola Indonesia: ketika pemain lokal tak lagi sekadar bertahan hidup, melainkan mulai mendominasi panggung utama.
Kini pertanyaannya tinggal satu: jika harus memilih, siapa yang paling layak disebut kiper lokal terbaik musim ini? (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni