RADARTUBAN – Ketika malam final Liga Europa memuncak di Istanbul, satu nama kembali berdiri paling terang di panggung Eropa: Unai Emery.
Pelatih asal Spanyol itu sukses mengantar Aston Villa menjuarai Liga Europa usai membungkam SC Freiburg dengan skor meyakinkan 3-0 di Tüpraş Stadium, Kamis (21/5) dini hari WIB.
Namun trofi ini terasa jauh lebih besar daripada sekadar kemenangan final biasa. Ini adalah gelar Liga Europa kelima sepanjang karier Emery—sebuah pencapaian yang membuat namanya semakin identik dengan kompetisi tersebut.
Akun X milik jurnalis Italia Nicolò Schira bahkan menuliskan kalimat yang langsung menjadi sorotan publik sepak bola Eropa.
“Ditulis Liga Europa, tetapi cara membacanya adalah Emery League. Pelatih asal Spanyol itu telah memenangkan lima Liga Europa bersama tiga klub berbeda,” tulis Schira.
Emery dan DNA Juara Liga Europa
Bukan kebetulan jika Emery kembali mengangkat trofi ini. Pelatih 54 tahun itu seperti memiliki hubungan khusus dengan Liga Europa.
Sebelumnya, Emery pernah menciptakan dominasi luar biasa bersama Sevilla FC dengan tiga gelar beruntun.
Emery kemudian kembali juara bersama Villarreal CF sebelum kini mengulang kisah yang sama bersama Aston Villa.
Lima trofi bersama tiga klub berbeda menjadi bukti bahwa Emery bukan sekadar pelatih bagus, tetapi spesialis turnamen Eropa yang sangat memahami tekanan laga knockout.
Aston Villa Jadi Bukti Kebangkitan Emery
Final di Istanbul memperlihatkan kecerdasan taktik Emery secara nyata. Aston Villa tampil disiplin, tajam, dan nyaris tanpa celah.
Gol Youri Tielemans pada menit ke-40 membuka jalan kemenangan sebelum Emiliano Buendía dan Morgan Rogers memastikan Freiburg pulang tanpa harapan.
Lebih dari sekadar trofi, kemenangan ini juga terasa sebagai pembuktian pribadi Emery.
Setelah sempat diragukan saat melatih Arsenal, Emery kini menjelma menjadi simbol kebangkitan Aston Villa dan salah satu pelatih paling sukses di kompetisi Eropa modern.
Di Liga Europa, Emery bukan lagi sekadar pelatih. Mantan arsitek Paris Saint-Germain itu sudah menjadi legenda. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni