RADARTUBAN – Perdebatan soal siapa tim sepak bola terbaik sepanjang masa kembali memanas di media sosial. Kali ini, majalah sepak bola ternama Four Four Two merilis daftar 25 tim terhebat sepanjang sejarah, lalu dipublikasikan ulang akun X @Globalstats11 dan langsung memicu diskusi panjang di kalangan pecinta sepak bola dunia.
Dalam daftar tersebut, Timnas Brasil era 1970 ditempatkan di posisi teratas. Generasi emas yang diperkuat Pelé, Jairzinho, Tostão, hingga Carlos Alberto dianggap sebagai simbol sepak bola sempurna: indah, kreatif, tetapi tetap mematikan.
Sementara itu, AC Milan era Arrigo Sacchi dan Fabio Capello pada periode 1987-1991 berada di posisi kedua.
Disusul Barcelona era Pep Guardiola 2008-2011 yang disebut banyak pengamat sebagai tim dengan permainan paling dominan dalam sejarah modern.
Baca Juga: Disingkirkan Portugal, Pelatih Brasil Sindir Timnas Indonesia U-17: Kami Hanya Kebobolan 3 Gol
Dominasi Filosofi Total Football
Daftar ini juga memperlihatkan betapa besarnya pengaruh filosofi “Total Football”.
Ajax Amsterdam periode 1965-1973 menempati posisi keempat, sedangkan Belanda era 1974-1978 berada di urutan ke-13.
Tim-tim tersebut bukan hanya memenangkan pertandingan, tetapi mengubah cara dunia memandang sepak bola.
Johan Cruyff menjadi pusat revolusi taktik yang dampaknya masih terasa hingga sekarang.
Tak kalah menarik, Spanyol 2007-2012 masuk lima besar berkat dominasi luar biasa mereka di Euro dan Piala Dunia lewat gaya tiki-taka yang nyaris sempurna.
Manchester City Mulai Masuk Era Legendaris
Salah satu nama paling modern dalam daftar itu adalah Manchester City periode 2017-2024.
Tim asuhan Pep Guardiola tersebut berada di posisi ke-14, mengungguli sejumlah klub klasik Eropa.
Ini menjadi penanda bahwa dominasi City dalam beberapa musim terakhir mulai disejajarkan dengan dinasti besar sepak bola dunia.
Namun, muncul pula perdebatan. Banyak fans mempertanyakan posisi Liverpool era Jürgen Klopp yang dianggap terlalu rendah di urutan ke-21.
Ada pula yang menilai Real Madrid era Liga Champions modern seharusnya masuk lebih tinggi.
Baca Juga: Willian Estêvão Pecah Telur di Timnas: Sinyal Era Baru Sepak Bola Brasil?
Bukan Sekadar Trofi
Menariknya, daftar Four Four Two tampaknya tidak hanya menilai jumlah gelar. Faktor pengaruh taktik, gaya bermain, dominasi era, hingga warisan emosional menjadi pertimbangan penting.
Karena itulah, tim seperti Hungaria 1950-1956 dan Dynamo Kyiv 1985-1987 tetap mendapat tempat meski tidak sepopuler klub-klub modern saat ini.
Satu hal yang pasti, daftar ini kembali mengingatkan bahwa sepak bola bukan hanya soal menang.
Ada tim-tim yang meninggalkan jejak abadi karena cara mereka membuat dunia jatuh cinta pada permainan ini. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni