RADARTUBAN - AC Milan kembali masuk fase panas. Setelah musim yang dianggap jauh dari ekspektasi, pemilik klub Gerry Cardinale disebut telah mengambil keputusan besar yang bisa mengubah arah Rossoneri dalam beberapa tahun ke depan.
Laporan media Italia La Gazzetta dello Sport menyebut Cardinale memutuskan untuk melepas tiga figur penting sekaligus: Giorgio Furlani, Igli Tare, dan Geoffrey Moncada.
Kabar itu langsung mengguncang publik San Siro. Sebab, ketiganya selama ini menjadi wajah utama proyek manajemen Milan era RedBird Capital.
Baca Juga: Como dan AS Roma Lolos Liga Champions, Dua Raksasa AC Milan - Juventus Terpental ke Liga Europa
Tanda Kekecewaan Mendalam Cardinale
Langkah drastis ini diyakini menjadi sinyal bahwa Cardinale tidak lagi puas dengan arah pembangunan klub.
Milan memang gagal memenuhi ekspektasi besar musim ini. Alih-alih juara, AC Milan secara memalukan juga gagal lolos ke Liga Champions.
Furlani selama ini memegang kendali sebagai CEO klub. Sementara Moncada dikenal sebagai sosok penting dalam perekrutan pemain muda berbakat.
Adapun Igli Tare baru diproyeksikan masuk dalam restrukturisasi olahraga Milan.
Namun tekanan besar dari suporter membuat situasi berubah cepat. Kritik terhadap kebijakan transfer, inkonsistensi proyek tim, hingga hilangnya identitas permainan Milan terus membesar dalam beberapa bulan terakhir.
Kini Cardinale tampaknya memilih jalur paling ekstrem: membongkar pusat kendali klub sekaligus.
Milan Kehilangan Arah
Masalah Milan musim ini bukan sekadar hasil pertandingan. Klub tujuh kali juara Liga Champions itu terlihat kehilangan kestabilan dalam banyak aspek.
Di lapangan, performa tim naik turun. Di luar lapangan, arah proyek klub juga mulai dipertanyakan.
Pergantian pelatih, keputusan transfer yang dianggap tidak sinkron, hingga minimnya pemain pemimpin membuat Rossoneri kehilangan karakter khasnya.
Suasana itu semakin panas setelah berbagai laporan media Italia menyebut ruang internal klub mulai terpecah.
Era Baru Segera Dimulai?
Sampai saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak klub terkait laporan tersebut.
Namun rumor dari Italia berkembang sangat cepat dan diyakini berasal dari sumber internal yang dekat dengan manajemen.
Jika keputusan ini benar terjadi, maka Milan akan memasuki babak baru yang penuh risiko.
Cardinale kini menghadapi tekanan besar untuk membuktikan bahwa revolusi yang dilakukan bukan sekadar kepanikan sesaat.
Bagi tifosi Milan, satu hal yang paling ditunggu bukan hanya pergantian nama di kursi direksi.
Mereka ingin melihat Rossoneri kembali ditakuti di Italia dan Eropa, seperti era kejayaan yang pernah membuat San Siro menjadi panggung mimpi bagi dunia sepak bola. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni