Advertorial Boks Daerah Ekonomi Bisnis Entertainment Hukum & Kriminal Internasional Kesehatan Kolom Lifestyle Nasional Nduk Olahraga Opini Pendidikan Politik & Pemerintahan Teknologi Visual Report Wisata & Kuliner

Bernardo Tavares Bawa Persebaya Bangkit di Super League, Green Force Akhiri Musim dengan Enam Clean Sheet Beruntun 

Tulus Widodo • Selasa, 26 Mei 2026 | 18:09 WIB
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares. (instagram.com/bernardotavares80)
Pelatih Persebaya Surabaya, Bernardo Tavares. (instagram.com/bernardotavares80)

RADARTUBAN – Stadion Gelora Bung Tomo berubah menjadi panggung pesta hijau pada pekan terakhir BRI Super League 2025/2026. 

Persebaya Surabaya tidak sekadar menang, tetapi menghancurkan Persik Kediri lima gol tanpa balas dalam laga penutup musim, Sabtu (23/5) lalu.

Kemenangan telak itu memastikan Bajul Ijo finis di posisi keempat klasemen akhir dengan koleksi 58 poin. 

Namun lebih dari sekadar angka, ada satu catatan yang membuat musim Persebaya terasa berbeda: enam clean sheet beruntun.

Di tengah kompetisi yang makin keras dan penuh tekanan, lini belakang Green Force justru berubah menjadi tembok yang nyaris tak bisa ditembus.

Baca Juga: Kisah Haru Bonek Tunanetra di Stadion Gelora Bung Tomo, Dukung Persebaya Surabaya Tanpa Batas

Pelatih Bernardo Tavares pun mengaku puas dengan karakter timnya sepanjang musim.

“Membuat enam clean sheet beruntun tidaklah mudah, ini kerja keras seluruh tim,” kata pelatih asal Portugal tersebut dilansir dari ileague.id.

Persebaya Tidak Lagi Sekadar Menghibur

Musim ini Persebaya tampil dengan wajah berbeda. Mereka bukan hanya agresif menyerang, tetapi juga mulai matang dalam bertahan.

Perubahan itu terasa penting karena selama beberapa musim terakhir Persebaya sering dianggap terlalu emosional dalam bermain — atraktif, tetapi rapuh di momen krusial.

Bernardo Tavares perlahan mengubah identitas itu.

Meski demikian, pelatih yang pernah membawa PSM Makassar juara Liga Indonesia tersebut mengakui kompetisi musim ini jauh lebih berat dibanding beberapa tahun lalu.

“Musim ini karena kami kalah 5 kali di beberapa laga yang seharusnya bisa lebih baik. Tapi inilah sepak bola,” tuturnya.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menggambarkan satu rasa yang masih tertinggal: penyesalan.

Baca Juga: Arema FC vs Persebaya Surabaya di Bali, Solusi atau Ilusi Keamanan?

Liga Indonesia Kini Jauh Lebih Kejam

Menurut Tavares, perubahan regulasi pemain asing dan meningkatnya jumlah pemain naturalisasi membuat level kompetisi melonjak drastis.

Situasi itu membuat persaingan papan atas tidak lagi mudah diprediksi.

Namun di tengah kerasnya kompetisi, Persebaya justru mampu menunjukkan perkembangan. 

Raihan 58 poin musim ini meningkat dibanding musim lalu yang hanya mencapai 56 poin.

“Ini sangat bagus. Jadi Persebaya menjalani musim yang lebih baik sekarang. Ini pencapaian positif,” pungkasnya.

Green Force Mengirim Sinyal Bahaya

Meski gagal masuk perebutan gelar juara, akhir musim Persebaya justru terasa seperti awal dari sesuatu yang lebih besar.

Sebab ketika sebuah tim mulai menemukan keseimbangan antara mental, pertahanan, dan identitas permainan, mereka biasanya tidak butuh waktu lama untuk berubah menjadi ancaman serius.

Dan sekarang, Persebaya terlihat sedang bergerak ke arah itu. (*)

Editor : Hardiyati Budi Anggraeni
#barnardo tavares #Persebaya Surabaya #green force #BRI Super League #Bajul Ijo