RADARTUBAN - Sepak bola selalu menyimpan ruang bagi keajaiban. Namun apa yang dilakukan Como 1907 dalam tujuh musim terakhir mungkin layak disebut sebagai salah satu transformasi paling spektakuler di Italia modern.
Pada musim 2018/19, Como masih berkutat di Serie D, kasta keempat sepak bola Italia. Saat itu, klub yang bermarkas di tepi Danau Como tersebut bahkan belum masuk dalam percakapan klub-klub elite negeri pizza.
Tujuh tahun berselang, segalanya berubah drastis.
Musim 2025/26 menjadi tonggak sejarah baru setelah Como 1907 finis di peringkat keempat Serie A dan memastikan tiket menuju Liga Champions Eropa untuk pertama kalinya sepanjang sejarah klub.
Baca Juga: Lolos Liga Champions, Como 1907 Terpaksa Sementara Tinggalkan Stadion Ikonik Giuseppe Sinigaglia
Perjalanan yang Tidak Instan
Kebangkitan Como dibangun tahap demi tahap.
Mereka menjuarai Serie D pada 2018/19 dan promosi ke Serie C. Dua musim kemudian, Como kembali menjadi juara Serie C dan naik ke Serie B.
Alih-alih langsung melesat, klub ini sempat menjalani proses panjang dengan dua musim berturut-turut finis di posisi ke-13 Serie B. Kesabaran itulah yang kemudian menjadi fondasi keberhasilan.
Musim 2023/24 menjadi titik balik saat Como finis sebagai runner-up Serie B dan promosi ke Serie A.
Setahun kemudian mereka mengejutkan publik dengan finis di posisi ke-10. Namun yang terjadi musim ini jauh melampaui ekspektasi siapa pun.
Sentuhan Cesc Fabregas
Di balik lonjakan prestasi tersebut, nama Cesc Fàbregas menjadi sosok sentral.
Legenda sepak bola Spanyol itu berhasil membangun identitas permainan yang berani, modern, dan kompetitif.
Como tidak hanya bertahan di Serie A, tetapi mampu bersaing melawan klub-klub mapan seperti Inter Milan, AC Milan, hingga Juventus.
Investasi dan Visi Jangka Panjang Berbuah Manis
Kesuksesan Como juga tidak lepas dari dukungan pemilik klub yang merupakan pengusaha Indonesia pemilik Grup Djarum.
Perpaduan antara stabilitas finansial, manajemen yang sabar, serta visi jangka panjang menciptakan fondasi yang kuat.
Musim ini bahkan semakin sempurna karena Como mampu melangkah hingga semifinal Coppa Italia.
Dari klub yang pernah bermain di kasta amatir hingga kini bersiap mendengar lagu kebangsaan Liga Champions berkumandang di stadion mereka, Como 1907 telah menulis kisah yang membuktikan satu hal: mimpi besar dalam sepak bola hanya milik mereka yang berani membangunnya dengan sabar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni