RADARTUBAN – Klub legendaris Serie A, AC Milan tampaknya belum puas hanya menjadi penonton dalam perebutan supremasi sepak bola Eropa.
Setelah beberapa musim tampil naik turun, Rossoneri kini mengirim pesan tegas kepada para rivalnya: revolusi besar sedang dimulai dari ruang rapat hingga pinggir lapangan.
Laporan terbaru dari Sky Sport mengungkap struktur manajemen baru AC Milan yang akan menjadi fondasi proyek jangka panjang klub.
Di atas semuanya berdiri pemilik klub, Gerry Cardinale, sosok yang selama ini menjadi arsitek arah bisnis Rossoneri.
Sementara posisi Chief Executive Officer (CEO) dipercayakan kepada Marco Calvelli. Namun sorotan terbesar tetap tertuju kepada Ruben Amorim yang ditunjuk sebagai pelatih sekaligus manajer tim utama.
Baca Juga: AC Milan Bergerak Cepat, Aurelien Guernier Direkrut untuk Proyek Jangka Panjang Rossoneri
Bukan Sekadar Ganti Pelatih
Penunjukan Amorim bukan hanya pergantian nama di bangku cadangan. Milan tampak sedang mengadopsi model kerja modern yang selama ini sukses diterapkan sejumlah klub elite Eropa.
Amorim diberi ruang lebih luas dalam pengambilan keputusan teknis. Artinya, arah permainan, kebutuhan skuad, hingga pembangunan identitas tim berpotensi lebih terintegrasi.
Di belakang layar, Milan juga menunjuk Henning Almstadt sebagai Direktur Player Trading, serta Ben Gardiner yang bertanggung jawab pada Football Intelligence.
Milan Bangun Mesin, Bukan Sekadar Tim
Yang menarik, Rossoneri tidak hanya fokus pada tim utama. Struktur baru ini memperlihatkan perhatian serius terhadap regenerasi pemain.
Posisi Kepala Scouting dipercayakan kepada Diego Lomonte. Sementara proyek Milan Futuro dipimpin Jovan Kirovski dan sektor akademi berada di bawah kendali Vincenzo Vergine.
Secara sederhana, Milan sedang membangun ekosistem sepak bola yang terhubung dari akademi hingga tim utama.
Taruhan Besar Cardinale
Langkah ini sekaligus menjadi ujian terbesar bagi Cardinale sejak mengambil alih klub.
Investasi pada struktur organisasi modern menunjukkan bahwa Milan tidak ingin lagi bergantung pada belanja pemain mahal semata.
Pendekatan berbasis data, scouting, pengembangan talenta muda, dan kepemimpinan yang terpusat menjadi fondasi baru Rossoneri.
Pertanyaannya kini bukan apakah Milan mampu bersaing di Serie A. Pertanyaan yang lebih menarik adalah: apakah revolusi ini cukup kuat untuk mengembalikan AC Milan ke meja makan para raksasa Eropa?
Jawabannya akan mulai terlihat ketika musim baru bergulir. Namun satu hal sudah jelas, Milan sedang membangun mesin besar, bukan sekadar mengganti sopirnya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni