RADARTUBAN - Zlatan Ibrahimovic Kritik Belgia vs Iran mencuat setelah ia memberikan komentar tajam terkait pertandingan yang dinilainya sangat membosankan dalam siaran Fox Sports.
Pertandingan yang terjadi pada ajang Piala Dunia 2026 yang digelar dengan sorotan besar publik dunia, sekaligus memicu diskusi luas mengenai performa Timnas Amerika Serikat.
Hal itu sekaligus mulai menarik perhatian khalayak ramai terkait tim kuda hitam di turnamen tersebut.
Pada tayangan Fox Sports, Zlatan Ibrahimovic secara blak-blakan mengaku hampir tertidur bahkan benar-benar tertidur pada babak kedua laga Belgia vs Iran di Piala Dunia 2026, yang menurutnya tidak menghadirkan intensitas permainan yang layak untuk level turnamen sebesar itu.
Baca Juga: Zlatan Ibrahimovic Pegang Kendali Milan Musim Depan, Pelatih Baru dan Direktur Akan Dipilih Sendiri
Komentar Blak-blakan di Studio
Zlatan Ibrahimovic Kritik Belgia vs Iran kembali menjadi sorotan ketika ia tampil di studio Fox Sports.
Dengan nada santai namun tegas ia menilai bahwa Timnas Amerika Serikat memiliki peluang besar untuk bersaing.
Bahkan menurutnya AS mampu mengejutkan banyak pihak di Piala Dunia 2026 jika mampu menjaga momentum positif mereka.
Roy Keane yang turut memberikan analisis di Fox Sports juga menyoroti buruknya kualitas pertandingan Belgia vs Iran.
Sorotan itu tertuju pada aspek umpan, pergerakan, dan pengambilan keputusan pemain yang dinilai tidak mencerminkan standar tinggi Piala Dunia 2026.
Menurut Zlatan Ibrahimovic, momentum yang dimiliki Timnas Amerika Serikat saat ini menjadi faktor penting yang dapat membantu mereka melangkah lebih jauh di Piala Dunia 2026.
Apalagi jika mereka mampu mempertahankan konsistensi permainan dan kepercayaan diri di setiap laga.
Perdebatan mengenai komentar Zlatan Ibrahimovic Kritik Belgia vs Iran terus berkembang di berbagai kanal olahraga internasional termasuk Fox Sports, yang secara konsisten membahas dinamika pertandingan serta peluang Timnas Amerika Serikat dalam persaingan ketat menuju fase akhir Piala Dunia 2026. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni