RADARTUBAN – Apa yang dulu terdengar seperti mimpi, kini mulai dibicarakan secara serius. Indonesia tengah menjajaki peluang untuk mengajukan diri sebagai tuan rumah Piala Dunia 2042, baik melalui kerja sama negara-negara Asia Tenggara maupun kolaborasi dengan Australia dan Selandia Baru.
Sinyal ambisi besar itu disampaikan langsung Ketua Umum PSSI Erick Thohir.
Dalam pernyataannya kepada TVRI Nasional, Erick mengonfirmasi bahwa Indonesia sedang mengeksplorasi berbagai skenario untuk masuk dalam persaingan menjadi penyelenggara ajang sepak bola terbesar di dunia tersebut.
“Indonesia sedang menjajaki peluang pencalonan Piala Dunia 2042 dengan kemungkinan tuan rumah bersama Asia Tenggara atau Australia-Selandia Baru,” ungkap Erick Thohir.
Baca Juga: Peluang Irak dan Senegal ke babak gugur Piala Dunia 2026 Masih Terbuka Usai Dua Kekalahan
Pernyataan tersebut langsung memantik antusiasme publik sepak bola nasional. Sebab, untuk pertama kalinya Indonesia secara terbuka dikaitkan dengan proyek jangka panjang menuju panggung tertinggi sepak bola dunia.
Belajar dari Kesuksesan Piala Dunia U-17
Gagasan ini bukan muncul tanpa dasar. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia dinilai berhasil menggelar berbagai turnamen internasional, termasuk Piala Dunia U-17 yang mendapat apresiasi dari FIFA.
Kesuksesan tersebut menjadi modal penting untuk membangun kepercayaan dunia bahwa Indonesia memiliki kapasitas sebagai penyelenggara event olahraga berskala global.
Namun tantangan menuju Piala Dunia senior tentu jauh lebih besar. Infrastruktur stadion, konektivitas transportasi, kapasitas akomodasi, hingga kesiapan keamanan menjadi faktor utama yang akan dinilai FIFA.
Opsi ASEAN atau Australia-Selandia Baru
Konsep tuan rumah bersama kini semakin lazim dalam penyelenggaraan turnamen besar. Piala Dunia 2026 misalnya digelar oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Karena itu, skema kolaborasi dengan negara-negara ASEAN atau Australia-Selandia Baru dinilai lebih realistis dibandingkan mengajukan diri secara mandiri.
Selain berbagi biaya dan infrastruktur, model tersebut juga membuka peluang memperkuat kerja sama regional melalui olahraga.
Lebih dari Sekadar Sepak Bola
Jika terwujud, Piala Dunia 2042 tidak hanya menjadi pesta olahraga. Dampaknya bisa merambah sektor pariwisata, investasi, ekonomi kreatif, hingga citra Indonesia di mata dunia.
Meski jalan menuju 2042 masih panjang dan penuh tantangan, satu hal mulai terlihat jelas: Indonesia tidak lagi hanya bermimpi menjadi penonton sejarah.
Kini, Indonesia mulai berani membayangkan diri sebagai panggung utama tempat sejarah sepak bola dunia ditulis. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni