RADARTUBAN - Pergantian pelatih menjadi sinyal dimulainya babak baru di tubuh PSM Makassar. Setelah resmi menunjuk pelatih asal Bosnia-Herzegovina, Darije Kalezic, manajemen Juku Eja kini mulai bergerak menyusun komposisi pemain untuk menghadapi kompetisi Super League musim 2026/2027.
Di tengah proses pembentukan skuad, dua nama dari kawasan Balkan mencuat sebagai kandidat kuat rekrutan anyar.
Informasi tersebut beredar di berbagai laporan bursa transfer, meski hingga kini belum ada pengumuman resmi dari klub.
Bek Serbia dan Gelandang Bosnia Masuk Radar
Dua pemain yang dikaitkan dengan PSM adalah bek tengah Serbia Nenad Lalic dan gelandang Bosnia-Herzegovina Edo Vehabovic.
Lalic yang kini berusia 27 tahun menghabiskan musim 2025/2026 bersama klub kasta tertinggi Thailand, Nakhon Ratchasima FC.
Berposisi sebagai bek tengah, ia dikenal memiliki postur ideal, kuat dalam duel udara, serta berpengalaman menghadapi sepak bola Asia.
Sementara itu, Vehabovic merupakan gelandang berusia 31 tahun yang memiliki loyalitas tinggi bersama Velez Mostar.
Ia membela klub Bosnia tersebut selama delapan musim sejak 2018/2019 dan menjadi salah satu pemain paling berpengalaman di ruang tengah tim.
Kehadiran keduanya dinilai sejalan dengan latar belakang Kalezic yang berasal dari kawasan Balkan.
Kesamaan kultur sepak bola diyakini dapat mempercepat proses adaptasi sekaligus membantu pelatih menerapkan filosofi permainan yang diinginkannya.
Masih Terkendala Sanksi FIFA, Transfer Belum Bisa Dipastikan
Meski demikian, peluang merekrut kedua pemain tersebut belum sepenuhnya mulus.
Nama PSM Makassar masih tercantum dalam daftar FIFA Registration Bans, sehingga klub belum dapat mendaftarkan pemain baru sampai persoalan tersebut diselesaikan.
Artinya, rumor kedatangan Lalic maupun Vehabovic masih sebatas spekulasi bursa transfer dan belum bisa dianggap sebagai kepastian.
Apabila kendala administrasi berhasil dibereskan, langkah PSM merekrut pemain-pemain Balkan berpotensi menjadi fondasi era baru di bawah Darije Kalezic.
Kombinasi pelatih dan pemain dengan latar belakang sepak bola yang sama dapat menciptakan identitas permainan yang lebih solid.
Namun, pada akhirnya kualitas di atas lapangan tetap menjadi tolok ukur utama apakah proyek baru Juku Eja mampu mengembalikan PSM bersaing di papan atas Liga Indonesia. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni