RADARTUBAN - Gol Kroasia dianulir pada laga melawan Portugal menjadi salah satu momen yang paling menyita perhatian di Piala Dunia 2026.
Keputusan tersebut memicu perdebatan luas karena tayangan ulang televisi tidak menunjukkan bukti yang benar-benar jelas mengenai sentuhan bola yang menjadi dasar keputusan offside.
Meski demikian, FIFA menegaskan bahwa teknologi terbaru yang digunakan pada bola pertandingan berhasil mendeteksi adanya kontak sehingga gol tersebut memang harus dibatalkan sesuai aturan permainan.
Baca Juga: Borneo FC Resmi Tunjuk Mauro Jerónimo, Pelatih Portugal Pembawa Ambisi Baru Pesut Etam
Kroasia Tampil Dominan tetapi Gagal Lolos
Pertandingan Portugal vs Kroasia berlangsung sengit sejak menit awal.
Tim asuhan Luka Modrić tampil lebih agresif dan beberapa kali mampu menekan lini pertahanan Portugal.
Kroasia akhirnya membuka keunggulan pada menit ke-53 melalui penyelesaian akhir Ivan Perišić.
Gol tersebut membuat Kroasia berada di atas angin dalam perebutan tiket menuju babak 16 besar Piala Dunia 2026.
Portugal sempat membalas lewat Cristiano Ronaldo. Namun, gol tersebut tidak disahkan karena sang kapten lebih dulu berada dalam posisi offside.
Tak lama berselang, Portugal memperoleh hadiah penalti setelah Renato Veiga dijatuhkan di area terlarang.
Cristiano Ronaldo yang maju sebagai eksekutor sukses menjalankan tugasnya.
Gol itu menjadi catatan spesial karena merupakan gol pertama Ronaldo di fase gugur sepanjang kariernya di ajang Piala Dunia.
Pelatih Roberto Martínez kemudian menarik keluar Ronaldo pada babak tambahan waktu.
Pergantian itu sempat mendapat respons negatif dari sebagian suporter Portugal.
Namun, keputusan tersebut terbukti tepat setelah Gonçalo Ramos mencetak gol kemenangan pada menit ke-94.
Baca Juga: Cristiano Ronaldo Pimpin Portugal di Piala Dunia 2026, Mampukah Akhiri Kutukan Generasi Emas?
Gol Kroasia Dianulir pada Menit ke-103
Drama besar terjadi menjelang berakhirnya pertandingan. Joško Gvardiol berhasil menjebol gawang Portugal pada menit ke-103.
Selebrasi pemain Kroasia berlangsung cukup lama karena mereka mengira skor kembali imbang.
Namun, wasit asal Norwegia, Espen Eskås, kemudian menerima panggilan dari ruang VAR.
Proses pemeriksaan dilakukan untuk memastikan apakah terjadi pelanggaran offside dalam proses gol tersebut.
Situasi bermula ketika Igor Matanović mencoba menyambut umpan silang di depan gawang.
Bola kemudian memantul mengenai Renato Veiga sebelum jatuh ke kaki Mario Pašalić.
Pašalić lalu memberikan umpan kepada Gvardiol yang langsung mencetak gol.
Masalah muncul karena apabila Matanović benar-benar menyentuh bola lebih dahulu, maka posisi Pašalić sudah berada dalam keadaan offside.
Akhirnya, gol Kroasia dianulir setelah wasit memastikan adanya sentuhan tersebut.
Baca Juga: Marco Silva Semakin Dekat Latih Benfica, Kontrak Panjang hingga 2028 Mulai Disiapkan Klub Portugal
Keputusan itu langsung memicu protes dari pemain maupun para pendukung Kroasia.
Teknologi Connected Ball Jadi Penentu
Kontroversi semakin besar karena tayangan ulang televisi tidak mampu memperlihatkan secara jelas apakah Matanović benar-benar menyentuh bola.
FIFA kemudian memberikan penjelasan resmi mengenai dasar pengambilan keputusan tersebut.
Badan sepak bola dunia itu menyatakan bahwa Teknologi Connected Ball yang tertanam di dalam bola pertandingan berhasil mendeteksi sentuhan sekecil apa pun.
Teknologi tersebut menggunakan sensor IMU yang mampu mengirimkan data secara real time kepada perangkat pertandingan.
Wasit tetap diminta melihat monitor VAR. Namun, pemeriksaan itu bukan untuk memastikan sentuhan Matanović.
Wasit diminta mengecek apakah Renato Veiga melakukan gerakan yang disengaja untuk memainkan bola.
Apabila sentuhan Veiga dianggap sebagai permainan yang disengaja, maka posisi offside tidak lagi berlaku.
Karena tidak ditemukan unsur tersebut, keputusan offside tetap dipertahankan.
Teknologi Connected Ball pun menjadi faktor utama dalam proses tersebut.
FIFA Berikan Penjelasan Resmi
FIFA akhirnya mengeluarkan pernyataan melalui akun resminya di media sosial X.
"Berdasarkan data yang diberikan oleh Connected Ball Technology yang terdapat pada bola Adidas Trionda, bola resmi Piala Dunia FIFA, terbukti bahwa terjadi kontak dari pemain Kroasia, Igor Matanović, dalam proses terciptanya gol ke gawang Portugal. Hal itu memungkinkan wasit mengambil keputusan offside dengan tepat sehingga gol tersebut harus dianulir," tulis FIFA dalam keterangan resminya.
FIFA juga menjelaskan kemampuan sensor yang terdapat di dalam bola pertandingan.
"Sensor IMU yang tertanam di dalam bola Trionda mampu mendeteksi setiap sentuhan sekecil apa pun. Informasi tersebut ditampilkan kepada penonton melalui grafis 'heartbeat' dalam siaran pertandingan dan memberikan data dengan tingkat akurasi yang belum pernah ada sebelumnya agar ofisial pertandingan dapat mengambil keputusan secara cepat dan tepat," jelas FIFA.
Pernyataan tersebut sekaligus menjadi penjelasan resmi atas keputusan kontroversial dalam laga Portugal vs Kroasia.
Meski demikian, keputusan tersebut tetap memancing berbagai reaksi dari pencinta sepak bola.
Banyak pihak menilai teknologi memang membantu meningkatkan akurasi keputusan wasit.
Di sisi lain, sebagian suporter merasa gol Kroasia dianulir dalam situasi yang sulit dibuktikan hanya melalui tayangan ulang biasa.
Kontroversi itu sekaligus menunjukkan bahwa Piala Dunia 2026 kini memasuki era baru penggunaan Teknologi Connected Ball, di mana data dari sensor dalam bola memiliki peran penting dalam membantu perangkat pertandingan mengambil keputusan secara lebih akurat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni