RADARTUBAN - Pergelaran kompetisi sepak bola paling bergengsi di dunia, Piala Dunia 2026, kini tengah berada di bawah sorotan tajam publik global.
Alih-alih mendapatkan pujian atas kesiapan fasilitasnya, Amerika Serikat selaku salah satu negara penyelenggara utama justru panen kritikan pedas.
Berbagai media internasional dan pencinta sepak bola bahkan secara terang-terangan melabeli negara adidaya tersebut sebagai tuan rumah terburuk sepanjang sejarah perhelatan turnamen akibat rentetan kontroversi yang terus mencuat.
Gelombang protes dan polemik yang melanda tidak lepas dari buruknya manajemen logistik serta regulasi ketat yang diterapkan di area bandara dan stadion.
Baca Juga: Timnas Iran Ditolak di Amerika Serikat, Disambut Meriah di Meksiko Jelang Piala Dunia
Sejumlah delegasi tim nasional dari berbagai belahan dunia mengeluhkan rumitnya proses birokrasi keimigrasian yang memakan waktu lama, sehingga menguras energi fisik para atlet sebelum bertanding.
Masalah pengkondisian transportasi lokal bagi para suporter antar-negara yang dinilai kurang ramah dan membingungkan kian memperkeruh suasana di lapangan.
Selain masalah teknis operasional, sentimen politik luar negeri yang kaku di area perbatasan juga memicu gesekan emosional yang tidak perlu di ranah olahraga profesional.
Beberapa insiden penolakan tidak langsung atau penyambutan yang dingin terhadap perwakilan negara tertentu membuat esensi dasar Piala Dunia sebagai pemersatu bangsa-bangsa menjadi ternoda.
Kritik tajam pun terus mengalir dari federasi sepak bola internasional yang mendesak adanya evaluasi menyeluruh demi menyelamatkan muka turnamen.
Kondisi yang carut-marut ini tentu menjadi tamparan keras bagi komite pelaksana lokal di Amerika Serikat.
Jika pembenahan sistem dan fasilitas penunjang tidak segera dilakukan dalam waktu dekat, reputasi olahraga internasional mereka dipertaruhkan.
Publik tentu berharap pihak penyelenggara bisa lebih melunakkan kebijakan operasional demi kenyamanan para pemain dan suporter, sehingga fokus utama turnamen dapat kembali murni pada keindahan permainan si kulit bundar. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni