RADARTUBAN - Dunia sepak bola berduka. Legenda AC Milan sekaligus mantan kapten Timnas Italia, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun.
Kabar duka tersebut dikonfirmasi langsung oleh AC Milan dan dilaporkan media Italia, Gazzetta dello Sport, pada Jumat (31/7).
Kepergian Baresi bukan sekadar kabar wafatnya mantan pemain. Sepak bola kehilangan salah satu bek terbaik sepanjang sejarah, sosok yang menjadikan loyalitas sebagai identitas di tengah era modern yang dipenuhi perpindahan pemain.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : AC Milan Bidik Mati Soule, Rossoneri Mulai Dekati Agen Sang Pemain
Milan Menangis, Nomor 6 Menjadi Simbol Keabadian
Dalam pernyataan resminya, AC Milan menyampaikan penghormatan terakhir kepada sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah klub.
"Sejarah Milan menangisi kepergian Franco Baresi. Teladan dan ketulusannya akan selamanya, seperti nomor punggung 6 miliknya, menjadi bagian mendasar dari DNA dan perjalanan klub. Belasungkawa AC Milan kepada seluruh keluarga Franco Baresi adalah duka yang juga dirasakan setiap pendukung Rossoneri pada saat yang begitu berat ini." tulis pernyataan resmi klub dilansir dari Gazzetta.
Kalimat itu menggambarkan betapa besar arti Baresi bagi Rossoneri. Nomor punggung 6 bahkan dipensiunkan sejak ia mengakhiri karier pada 1997, penghormatan yang sangat langka dalam sejarah klub.
Loyalitas yang Sulit Terulang
Selama 20 tahun membela Milan, Baresi mencatat 719 penampilan, mempersembahkan enam gelar Serie A, tiga trofi Piala Champions Eropa, serta menjadi kapten dalam era kejayaan Rossoneri.
Bersama Timnas Italia, ia meraih gelar Piala Dunia 1982 dan membawa Gli Azzurri mencapai final Piala Dunia 1994.
Kepergian Baresi juga menjadi pengingat bahwa sepak bola modern semakin jarang melahirkan figur yang mengabdikan seluruh kariernya untuk satu klub.
Di tengah budaya transfer bernilai fantastis, loyalitas seperti yang ditunjukkan sang legenda kini menjadi warisan yang jauh lebih mahal daripada sekadar trofi.
Franco Baresi telah pergi. Namun, kepemimpinan, keteguhan, dan kecerdasannya membaca permainan akan terus hidup sebagai standar emas bagi generasi bek masa depan. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni