RADARTUBAN - Kisah Omar Artan berubah dari luka menjadi sejarah.
Wasit asal Somalia itu harus menelan pahitnya kehilangan kesempatan memimpin pertandingan di Piala Dunia setelah ditolak masuk Amerika Serikat.
Namun, ketika satu pintu tertutup, UEFA justru membuka panggung yang tak kalah istimewa.
Artan dipercaya memimpin UEFA Super Cup yang mempertemukan Paris Saint-Germain dan Aston Villa.
Penunjukan tersebut menjadikannya wasit Somalia pertama yang memimpin pertandingan bergengsi tersebut.
Artan mengakui kegagalan tampil di Piala Dunia sangat menyakitkan. Baginya, turnamen terbesar sepak bola dunia bukan sekadar pertandingan, melainkan kesempatan membawa nama keluarga, Somalia, dan Afrika ke panggung tertinggi.
“Tidak mudah bagi saya karena Piala Dunia adalah panggung terbesar dalam sepak bola. Itu akan menjadi momen luar biasa bagi saya, keluarga saya, dan Somalia. Saya sudah bekerja sangat keras untuk mencapai level tersebut, sehingga kehilangan turnamen itu terasa menyakitkan. Namun, begitulah sepak bola, terkadang sesuatu terjadi di luar kendali Anda,” kata Artan.
Tak Membiarkan Kekecewaan Menghancurkan Karier
Artan sebenarnya terpilih menjadi perangkat pertandingan Piala Dunia. Kekecewaan sempat menghantam keras, tetapi ia memilih tidak larut.
“Tentu saya kecewa karena saya dipilih untuk memimpin pertandingan di Piala Dunia dan saya tahu arti kesempatan tersebut. Saya ingin mewakili negara dan Afrika di panggung terbesar. Tetapi saya berusaha tidak membiarkan kekecewaan itu menghancurkan saya,” ujarnya.
UEFA Membuka Pintu yang Berbeda
Kesempatan kemudian datang dari UEFA. Artan dipercaya memimpin duel PSG kontra Aston Villa.
“Ini lebih besar daripada sekadar satu pertandingan. Menjadi wasit Somalia pertama yang memimpin UEFA Super Cup adalah sesuatu yang sangat saya banggakan,” tegasnya.
Artan memilih menjadikan pengalaman pahit itu sebagai bahan bakar. “Saya kehilangan satu mimpi, tetapi pintu lain terbuka,” kata dia.
Pesannya sederhana: jangan berhenti bermimpi. Jalan menuju impian bisa berubah, tetapi langkah tidak boleh berhenti. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni