RADARTUBAN – Bayangkan menunggu puluhan tahun hanya untuk menyaksikan klub kesayangan akhirnya tampil di panggung tertinggi Eropa.
Ketika tiket pertandingan sudah ludes, justru orang-orang yang berada di jajaran teratas klub memilih menyingkir dari kursinya. Inilah yang dilakukan Como menjelang debut bersejarah di Liga Champions menghadapi RB Leipzig, Jumat (11/9) dinihari WIB.
Seperti dilaporkan Gazzetta, Presiden Como Mirwan Suwarso bersama sejumlah direktur klub rela kehilangan tempat duduk mereka di tribun.
Baca Juga: Bursa Transfer Serie A : Como Naikkan Tawaran € 35 Juta untuk Rebut Moise Kean dari Fiorentina
Kursi tersebut diberikan kepada suporter paling senior yang telah mengikuti perjalanan Como melewati berbagai divisi dan era.
Sebuah keputusan yang sederhana, tetapi punya pesan kuat: malam terbesar dalam sejarah klub bukan semata milik mereka yang datang belakangan.
11 Ribu Kursi Ludes
Stadio Giuseppe Sinigaglia dipastikan penuh. Untuk pertandingan Eropa, kapasitas stadion Como dibatasi sekitar 11 ribu kursi setelah proses renovasi dan penyesuaian standar UEFA. Antusiasme suporter ternyata jauh melampaui jumlah tiket yang tersedia.
Situasi itu membuat banyak pendukung harus menerima kenyataan tidak bisa menyaksikan langsung laga bersejarah tersebut. Namun Como memilih jalan berbeda.
Kursi Petinggi untuk Suporter Setia
Suwarso dan beberapa direktur klub kemudian memutuskan menyerahkan kursi mereka kepada penggemar yang dianggap paling lama menunggu momen tersebut.
Prioritas diberikan kepada suporter yang lahir pada 1950 atau sebelumnya, atau berusia sekitar 75 tahun ke atas, yang telah mendukung Como di setiap kategori dan berbagai periode perjalanan klub.
“Stadion sudah sepenuhnya terjual. Dengan kapasitas yang berkurang dan jumlah tiket yang terbatas, sayangnya kami tidak dapat menampung semua orang yang ingin hadir.” kata Mirwan Suwarso dalam pernyataannya.
Ia melanjutkan bahwa dirinya dan sejumlah petinggi klub memilih menyerahkan kursi mereka.
“Kami ingin kursi tersebut diberikan kepada suporter yang telah menunggu paling lama: mereka yang lahir pada 1950 atau sebelumnya, yang telah mengikuti Como di setiap divisi dan setiap era,” lanjut orang kepercayaan keluarga Hartono itu.
Malam Champions untuk Mereka yang Bertahan
Como meminta suporter yang memenuhi kriteria tersebut mengirimkan informasi melalui email resmi klub.
Suwarso bahkan menyebut klub akan merasa terhormat menyerahkan kursinya kepada mereka.
Langkah ini terasa semakin kuat karena Como yang dimiliki Grup Djarum bukan klub yang tiba-tiba muncul di level elite.
Perjalanan mereka melewati masa sulit hingga akhirnya mencapai Liga Champions membuat pertandingan melawan Leipzig menjadi lebih dari sekadar laga sepak bola.
Ini adalah malam ketika sejarah klub bertemu dengan orang-orang yang ikut menjaganya tetap hidup.
Dan kali ini, para petinggi Como memilih menyaksikan sejarah itu dari tempat lain—agar suporter yang menunggu puluhan tahun bisa berada di tribun. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni