RADARTUBAN – Malam bersejarah akhirnya tiba, tetapi Cesc Fàbregas menolak Como 1907 larut dalam euforia.
Menghadapi RB Leipzig dalam laga pertama mereka di UEFA Champions League di Stadion Sinigaglia, Fabregas justru meminta anak asuhnya mengubah pesta sejarah menjadi pertarungan nyata.
Pesannya tegas: Leipzig memang tim hebat, tetapi Como datang bukan untuk sekadar menikmati panggung Liga Champions.
Mereka ingin membuktikan diri dan memenangkan pertandingan.
Di tengah atmosfer luar biasa yang menyelimuti kota dan suporter, Fabregas berusaha menjaga kaki timnya tetap berpijak di tanah.
Baca Juga: Cesc Fabregas Tegaskan Bertahan di Como, Siapkan Proyek Ambisius Usai Lolos Liga Champions
“Ini Pertandingan Sepak Bola”
Dalam konferensi pers menjelang pertandingan, Fabregas mengakui besarnya arti laga tersebut bagi Como.
“Saya memahami kegembiraan di seluruh kota, di dalam klub dan di antara para penggemar, karena ini adalah kesempatan bersejarah,” ujar Fabregas dikutip dari akun X @Como_1907.
Namun, mantan gelandang Arsenal, Barcelona, dan Chelsea itu langsung mengingatkan bahwa romantisme tidak boleh mengalahkan ambisi kompetitif.
“Kami harus mampu menyadari bahwa, pada akhirnya, ini adalah pertandingan sepak bola dan kami ingin menjadi lebih baik daripada mereka,” tegas pelatih asal Spanyol itu.
Kalimat itu menjadi gambaran jelas pendekatan Fabregas. Como boleh menikmati sejarah, tetapi tidak boleh kehilangan keberanian ketika pertandingan dimulai.
Leipzig Jadi Ujian Sesungguhnya
Fabregas sadar lawannya bukan sembarang tim.
“Leipzig adalah tim hebat, jadi kami harus memanfaatkan momen ini untuk belajar, menghadapi kesempatan ini dan mencoba menang,” tuturnya.
Como kini berada di panggung yang selama ini hanya menjadi mimpi. Sorotan besar, atmosfer Sinigaglia, serta kualitas Leipzig menjadi ujian apakah tim BiancoBlu benar-benar siap bersaing di level tertinggi Eropa.
Fabregas pun menutup pernyataannya dengan keyakinan penuh. “Saya sangat percaya diri,” tandasnya.
Kepercayaan diri itu kini harus dibayar di lapangan. Sebab, sejarah memang tercipta sekali, tetapi hasil pertandingan tetap ditentukan selama 90 menit. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni