RADARTUBAN – Dunia transfer sepak bola bersiap memasuki era baru. Mulai 1 Januari 2027, FIFA akan memberlakukan regulasi anyar yang mengubah cara kompensasi dihitung ketika kontrak pemain diputus sebelum waktunya.
Perubahan ini berpotensi mengganggu praktik lama yang memungkinkan nilai kompensasi menjadi senjata untuk menghambat pemain meninggalkan klub.
FIFA kini mendorong sistem yang lebih objektif, transparan, dan proporsional.
Regulasi baru tersebut telah disetujui secara bulat oleh Bureau of the FIFA Council pada 10 Juni 2026.
Baca Juga: Timnas Indonesia Tantang Jordan di Amman, Ujian Gila Garuda di FIFA Matchday
Klub Tak Bisa Lagi Seenaknya?
Inilah bagian yang paling menarik. Dalam laporan yang menjadi sumber kabar tersebut, SPORT menyoroti perubahan mekanisme kompensasi setelah polemik yang berkaitan dengan Julián Álvarez.
Namun secara resmi, FIFA menyatakan reformasi ini disusun dengan mempertimbangkan putusan Court of Justice of the European Union dalam kasus Diarra.
Jika kontrak pemain memiliki klausul pelepasan, angka tersebut pada prinsipnya akan menjadi dasar kompensasi selama klausul itu sah.
Namun, klausul yang dinilai berlebihan atau tidak adil dapat dipersoalkan.
Artinya, angka fantastis dalam kontrak tidak otomatis menjadi kartu truf klub.
Bagaimana Jika Tak Ada Release Clause?
Situasinya menjadi lebih kompleks ketika kontrak tidak memiliki klausul pelepasan.
Kompensasi akan ditentukan berdasarkan kondisi konkret. Beberapa faktor yang diperhitungkan antara lain sisa masa kontrak, gaji yang masih harus dibayarkan, nilai pemain, potensi kerugian akibat kehilangan pemain hingga biaya untuk mencari pengganti.
Di sinilah perubahan besar itu terasa. FIFA ingin mengurangi ruang bagi tuntutan kompensasi yang tidak proporsional sekaligus menjaga stabilitas kontrak.
Regulasi baru tersebut merupakan hasil pembahasan bersama FIFA, FIFPRO, perwakilan klub EFC, World Leagues Association, serta konfederasi terkait.
Transfer Bisa Jadi Lebih Terukur
Reformasi ini bukan berarti pemain bebas memutus kontrak sesuka hati. Sebaliknya, FIFA tetap menekankan keseimbangan antara hak pemain dan kepentingan klub.
Namun, satu pesan besar sudah jelas: sengketa kontrak harus memiliki parameter yang lebih masuk akal.
FIFA bahkan menyebut kerangka baru tersebut dirancang agar sistem transfer global menjadi objektif, transparan, nondiskriminatif, dan proporsional.
Mulai 2027, pertarungan transfer bukan hanya soal siapa punya uang paling besar.
Kontrak akan diuji dengan aturan yang lebih ketat—dan klub maupun pemain harus siap menghadapi konsekuensinya. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni