RADARTUBAN – AC Milan era Rúben Amorim mengoleksi 11 poin dalam lima laga Serie A 2026/2027. Angkanya cukup solid, tetapi langsung terlihat biasa saja ketika dibandingkan dengan catatan tujuh musim sebelumnya.
Stefano Pioli bahkan pernah membawa Milan mengumpulkan 13 poin dalam lima laga.
Start Amorim juga masih kalah dari torehan 12 poin milik Massimiliano Allegri pada 2025/2026 dan Pioli pada 2023/2024.
Pioli Pernah Buka Musim Lebih Ngebut
Start terbaik dalam periode tersebut terjadi pada 2021/2022, ketika Milan asuhan Pioli mengumpulkan 13 poin dari lima pertandingan. Semusim berikutnya, Pioli kembali meraih 11 poin.
Pada 2023/2024, Milan kembali mengoleksi 12 poin, sedangkan Massimiliano Allegri mengawali musim 2025/2026 dengan 12 poin.
Artinya, 11 poin Amorim memang bukan angka buruk. Tetapi juga belum cukup untuk disebut sebagai start fenomenal.
Baca Juga: Christopher Nkunku Masuk Daftar Jual AC Milan, Ruben Amorim Mulai Bongkar Skuad Besar-besaran
Sebaliknya, musim 2024/2025 menjadi periode terburuk dalam delapan musim tersebut. Milan bersama Paulo Fonseca hanya mengumpulkan 8 poin.
Sementara Marco Giampaolo bahkan cuma membawa Rossoneri meraih 6 poin pada 2019/2020.
Amorim Masih Punya Modal Penting
Ada satu angka yang membuat start Amorim tetap menarik. Milan belum terkalahkan setelah lima laga, dengan tiga kemenangan dan dua hasil imbang.
Reuters mencatat kemenangan 3-0 atas Lecce membawa Milan ke 11 poin.
Perbandingan historis juga menunjukkan 11 poin Amorim persis sama dengan start Milan pada 2022/2023.
Data tersebut membuat penilaian terhadap era baru Amorim tidak bisa hanya didasarkan pada jumlah poin.
Amorim sendiri baru ditunjuk Milan pada Juni 2026. Klub menyebut pelatih Portugal itu datang dengan pendekatan sepak bola menyerang, pressing tinggi, transisi cepat, serta fokus pada pengembangan pemain.
Jadi, 11 poin adalah modal awal, bukan ukuran akhir. Tantangan Amorim sekarang jauh lebih berat: menjaga Milan tetap konsisten ketika tekanan Serie A mulai meningkat. (*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni