RADARTUBAN - Brasil sebelumnya dikenal sebagai kekuatan utama sepak bola dunia.
Selecao merupakan satu-satunya negara yang selalu tampil di putaran final Piala Dunia dan telah mengoleksi lima gelar, yakni pada 1958, 1962, 1970, 1994, dan 2002.
Namun, performa Brasil dalam beberapa edisi terakhir belum mampu mengembalikan kejayaan tersebut.
Baca Juga: Timnas Brazil 1970 Masih Nomor Satu, Inilah Ranking Tim Terbaik Sepanjang Sejarah Sepak Bola
Pada Piala Dunia 2022, Brasil tersingkir di perempat final. Empat tahun kemudian, perjalanan mereka kembali terhenti lebih awal setelah kalah dari Norwegia di babak 16 besar.
Hasil tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai penurunan performa salah satu negara paling sukses dalam sejarah Piala Dunia.
Brasil Masih Punya Sederet Bintang
Di tengah hasil tersebut, kualitas individu pemain Brasil sebenarnya masih menjadi salah satu kekuatan utama.
Sejumlah nama seperti Vinicius Junior, Rodrygo, dan Raphinha tetap menjadi pemain yang mendapat perhatian di level sepak bola elite Eropa.
Analisis dari kanal YouTube Big A Story menilai persoalan Brasil tidak semata-mata berkaitan dengan kualitas pemain.
Narasi dalam video tersebut mengaitkan kemunduran Tim Samba dengan persoalan struktural yang lebih luas, terutama terkait tata kelola Federasi Sepak Bola Brasil (CBF).
"Masalah terbesar CBF bukan sekadar satu presiden yang korup atau satu pelatih yang salah. Selama lebih dari satu dekade, federasi ini hampir tak pernah benar-benar stabil," demikian narasi analisis dalam video Big A Story.
Ketidakstabilan di Tubuh CBF
Persoalan di tubuh CBF memang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Pergantian kepemimpinan dan sejumlah perkara yang melibatkan pejabat sepak bola Brasil turut menjadi bagian dari dinamika federasi.
Pada 2025, misalnya, Ednaldo Rodrigues dicopot dari jabatannya setelah pengadilan Rio de Janeiro membatalkan kesepakatan yang memperpanjang masa kepemimpinannya.
Reuters melaporkan keputusan tersebut berkaitan dengan dugaan pemalsuan dokumen dalam proses perpanjangan masa jabatan.
Ketidakstabilan di tingkat organisasi kemudian dinilai berpengaruh terhadap pengelolaan tim nasional.
Dalam beberapa tahun setelah kepergian Tite, Brasil mengalami pergantian pelatih sebelum CBF menunjuk Carlo Ancelotti sebagai pelatih permanen.
Ancelotti menjadi pelatih asing pertama yang secara permanen menangani timnas Brasil.
Selain persoalan federasi, perubahan pola pembinaan pemain muda.
Sepak bola jalanan atau futebol de rua yang selama ini dianggap sebagai salah satu sumber kreativitas pemain Brasil dinilai semakin tergeser oleh sistem akademi formal.
Dalam analisis tersebut, pemain muda Brasil disebut lebih banyak dibentuk melalui sistem pembinaan yang terstruktur dan terpengaruh pendekatan taktik sepak bola Eropa.
Kondisi itu dinilai berpotensi mengurangi karakter permainan individual yang selama ini identik dengan Brasil.
"Akademi membuat pemain seperti robot yang berjalan dalam sistem taktik Eropa, dan itu sebenarnya bukan DNA asli dari Brasil. Pemain Brasil terkenal dengan gocekannya yang membawa mereka meraih lima gelar Piala Dunia," jelas narator Big A Story.
Pembinaan dan Komersialisasi Jadi Sorotan
Faktor lain yang turut disorot adalah komersialisasi pertandingan tim nasional.
Dalam analisis Big A Story, penjualan hak komersial pertandingan persahabatan kepada agensi asing membuat Brasil kerap menjalani laga di luar negeri.
Kondisi tersebut disebut berpotensi membuat tim nasional semakin jauh dari basis pendukungnya di Brasil.
Pada akhirnya, analisis tersebut melihat kemunduran Brasil sebagai persoalan yang tidak berdiri sendiri.
Tata kelola federasi, perubahan sistem pembinaan pemain muda, serta orientasi komersial menjadi tiga aspek yang disorot dalam upaya memahami perubahan wajah sepak bola Brasil.
Meski demikian, sejumlah poin tersebut bukan kesimpulan resmi CBF maupun FIFA mengenai penyebab kegagalan Brasil di Piala Dunia 2026.
Fakta turnamen menunjukkan Brasil mencapai babak 16 besar sebelum dikalahkan Norwegia 0-1 dan finis di posisi ke-11. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari