RADARTUBAN — Timnas Indonesia saat ini terus menunjukkan tren positif dan perlahan kembali bersaing di level tertinggi Asia.
Kebangkitan skuad Garuda yang diwarnai oleh gelombang naturalisasi pemain keturunan berhasil membawa Indonesia menembus babak ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 serta babak semifinal Piala Asia U-23.
Kendati demikian, efektivitas strategi naturalisasi untuk masa depan sepak bola nasional tetap mendatangkan berbagai pandangan. Narator video kanal YouTube MALAKA, Aurel Vizal, memberikan sorotan mengenai batas dari kebijakan tersebut.
"Tentu saja naturalisasi tidak bisa jadi solusi jangka panjang karena suatu saat pemain keturunan ini juga ada batasnya, dan yang paling berpengaruh jelas adalah bagaimana federasi mengelola pembinaan usia muda." ujar Aurel dalam vidio tersebut
Jauh sebelum era modern ini, sejarah mencatat bahwa sepak bola Indonesia memang memiliki fondasi yang kuat hingga sempat dijuluki sebagai salah satu "Macan Asia".
Baca Juga: Jay Idzes Absen, Kevin Diks Naik Jadi Kapten Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026
Perjalanan sepak bola di Nusantara berawal dari akhir abad ke-19 sebelum kemerdekaan, hingga Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) resmi berdiri pada 19 April 1930.
Atas nama Hindia Belanda, Indonesia bahkan mencatatkan diri sebagai wakil Asia pertama yang tampil di ajang Piala Dunia 1938 di Prancis.
Masa keemasan Timnas Indonesia berlanjut pada era 1950-an hingga 1960-an di bawah asuhan pelatih asal Yugoslavia, Tony Pogacnik.
Skuad Garuda sukses meraih medali perunggu di Asian Games 1958 Tokyo, menjuarai Merdeka Games 1961, hingga menahan imbang raksasa sepak bola dunia Uni Soviet 0-0 pada Olimpiade Melbourne 1956.
Bahkan, Indonesia tercatat pernah lima kali mengalahkan Jepang pada rentang tahun 1950 hingga 1981.
Meskipun perjalanan panjang tersebut sempat diwarnai kemunduran akibat konflik internal federasi hingga sanksi FIFA pada 2015, kombinasi antara pembenahan tata kelola, perbaikan liga, serta pembinaan usia dini diharapkan mampu membawa Timnas Indonesia kembali terbang tinggi secara berkelanjutan di kancah internasional.(*)
Editor : Hardiyati Budi Anggraeni