RADARTUBAN - Manchester City kembali diguncang isu finansial. Bukan soal transfer pemain kali ini, melainkan dugaan bagaimana uang bisa “dipindahkan jalurnya” sehingga pemasukan terlihat lebih besar dan sejumlah pembayaran tidak langsung tercatat sebagai beban klub.
Laporan Jeremy Wilson di The Telegraph yang mengulas dokumen Football Leaks menyoroti dua pola yang sejak lama menjadi perhatian dalam kasus finansial City.
Yakni, pembayaran kepada pihak yang terkait dengan klub tetapi berada di luar kontrak resmi, serta kesepakatan sponsorship yang diduga tidak seluruh nilainya benar-benar dibayarkan oleh sponsor.
Baca Juga: 114 Tuduhan Terbukti, Klub Premier League Mulai Bidik Manchester City: Uang Ganti Rugi?
Tuduhan-tuduhan tersebut berkaitan dengan periode lama, jauh sebelum sistem finansial Premier League yang berlaku sekarang.
Bayaran Mancini Jadi Sorotan
Salah satu nama yang muncul adalah Roberto Mancini. Saat menangani City, mantan pelatih tersebut disebut memiliki kontrak senilai £ 1,45 juta per tahun.
Namun, menurut laporan yang bersumber dari dokumen Football Leaks, Mancini juga diduga memperoleh £ 1,75 juta melalui pekerjaan konsultasi untuk sebuah klub di Abu Dhabi.
Pola seperti itu menjadi sorotan karena pembayaran kepada personel klub melalui entitas lain berpotensi memengaruhi bagaimana biaya sebenarnya tercatat dalam laporan keuangan.
Dokumen yang sama juga menyinggung pembayaran hak citra Yaya Toure melalui perusahaan milik agennya.
Pembayaran tersebut dilaporkan berasal dari Abu Dhabi United Group, pemilik City, bukan langsung dari klub.
Sponsorship Aabar Bikin Alis Terangkat
Skema lain berkaitan dengan pemasukan komersial.
Kesepakatan sponsorship Aabar senilai £ 15 juta pada 2010 menjadi salah satu contoh yang disorot.
Berdasarkan email yang dilaporkan Der Spiegel dari dokumen Football Leaks, direktur City Simon Pearce disebut menyatakan kewajiban langsung Aabar hanya £ 3 juta per tahun.
Sementara £ 12 juta sisanya disebut berasal dari sumber alternatif yang disediakan pihak Abu Dhabi.
Jika struktur tersebut terbukti seperti yang dilaporkan, persoalannya bukan sekadar angka sponsorship.
Pendapatan yang berasal dari pihak terkait pemilik klub dapat memengaruhi ruang finansial klub apabila dicatat sebagai pendapatan komersial.
Mengapa Angka Ini Penting?
Di era PSR, klub dinilai berdasarkan kinerja finansial selama periode tiga musim. Batas kerugian yang relevan mencapai £ 105 juta dalam kondisi tertentu.
Karena itu, cara sebuah klub mencatat pendapatan dan pengeluaran menjadi sangat menentukan.
Premier League kemudian memperketat aturan Associated Party Transactions (APT) untuk mencegah klub memperoleh keuntungan finansial dari pihak yang memiliki hubungan dengan pemilik melalui transaksi yang tidak mencerminkan nilai pasar wajar.
Kasus City sendiri kini memasuki fase baru. Laporan 25 September menyebut komisi independen menemukan pelanggaran pada 114 dari 115 dakwaan.
Namun, Manchester City menegaskan proses masih berlangsung dan ketua klub Khaldoon Al Mubarak menyatakan keyakinannya untuk membuktikan klub tidak bersalah.
Jadi, istilah “mengakali” perlu ditempatkan sebagai dugaan dalam laporan mengenai skema finansial, bukan fakta bahwa setiap mekanisme tersebut telah diputus bersalah secara final. (*)
Editor : Shafa Dina Hayuning Mentari